Lahir di Jombang Jawa Timur 4 Oktober pada 1966 lalu, A. Sapto Anggoro, anak ketujuh dari pasangan Kapten Purn (CPM) Tamyas Mintoredjo sebenarnya bercita-cita jadi jenderal. Maka dia masuk Akabri. Namun ketika ibundanya tahu bahwa Akabri yang dipilihnya adalah polisi (Akpol), sang ibu tak merestui sehingga di tes terakhir gagal.
Lalu Sapto memantapkan diri tinggal di Surabaya dan memulai karir sebagai tukang cetak foto hitam putih perusahaan iklan bioskop. Kamar gelap — tempat memproses foto– menjadi makanan sehari-harinya. Setelah bekerja sekitar 9 bulan, perusahaan tempat dia bekerja mulai goyah. Sebelum kapal karam Sapto banting setir ke studio foto, dengan pekerjaan yang sama.
Rupanya sepesialnya tetap: cetak foto hitam putih. Di sini Sapto banyak mencetak foto orang meninggal dengan ukuran besar-besar dari film negatif yang sudah usang atau film berwarna yang dicetak hitam putih.

Hanya 6 bulan tidak kerasan, Sapto yang kuliah di jurnalistik Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya - Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) rajin menulis artikel di Surabaya Post, Jawa Pos, dan Liberty.
Melihat mulai muncul mesin cetak foto otomatis yang modern dan tanpa kamar gelap lagi, kala itu, Sapto berpikir bahwa profesinya akan tergerus. Maka dia memilih keluar dari dunia cetak foto dan menggeluti jurnalistik lebih serius.
Dunia Jurnalistik
Pucuk dicita ulam tiba, pada semester 3 kuliah, Sapto berkesempatan bergabung menjadi wartawan “tamu” di Surabaya Post. Masuk bagian desk olahraga. Meski sebenarnya lebih bisa main bolavoli dan bulu tangkis, apa hendak dikata, dia harus menerima tugas liputan sepakbola.
Sampai tahun 1990, Sapto tiba-tiba diajak untuk bergabung ke Berita Buana, Jakarta. Dalam waktu dua bulan langsung mendapat kepercayaan liputan ke luar negeri meski baru Malaysia. Katika dia sedang meliput SEA Games di Manilia 1991, tiba-tiba manajamen Berita Buana pecah, Sapto bergabung dengan kubu jurnalis muda yang mayoritas ex-Tempo.
Menjadi pengangguran sekitar 10 bulan, waktunya diisi menjadi penulis di media inhouse untuk perusahaan. Tak lama kemudian, akhir 1992 Ikatan Cendekiwan Muslim Indonesia (ICMI) mendirikan harian Republika. Sapto pun bergabung dengan spesialisnya sebagai redaktur olahraga.
Rupanya olahraga menjadi jalan hidup yang tiba-tiba tak terpikirkan tapi mengesankannya. Berkat olahraga, dia bisa meliput Piala Dunia Sepakbola US’94 sehingga dia bisa menjelajahi AS sekitar sebulan dan beredar di 9 negara bagian. Dua tahun kemudian mendapat undangan dari McDonald’s menjadi tamu pesta olahraga multi-event terakbar di dunia, yakni Olimpiade Atlanta 1996 selama hampir sebulan. Meliput Piala Dunia Sepakbola dan Olimpiade bagi wartawan sport, bagai sudah melakukan haji dan umrah.
Berbagai penugasan dilalui Sapto dengan baik. Menjadi redaktur kota, redaktur Nusantara/Daerah, edisi Minggu, tabloid sepakbola Rekor di Republika, dan menjadi asisten Korlip (Koordinator Liputan). Pada saat suasana politik Indonsia genting, 1998 Sapto dipercaya menjadi Kordesk Politik. Liputan yang sangat mengesankan adalah beberapa hari menjelang jatuhnya Soeharto dari kursi presiden pada Mei 1998.
Memulai Detikcom
Pada saat posisinya di Republika sudah mantap, rupanya media online menggodanya. Dengan penuh keyakinan bahwa masa depan adalah media online, Sapto menerima ajakan Budiono Darsono (Pemimpin Redaksi sekaligus founder Detikcom) untuk bergabung. Meski sudah bekerja sejak 9 Juli 1998 (tanggal terbit awal Detikcom) tapi Sapto baru resmi bergabung pada 1999.
Hampir seluruh budayanya di Republika ditinggalkan, karena media baru itu tanpa deadline — alias deadline setiap saat. Modelnya breaking news, cepat tanpa meninggalkan akurasi. Dia menjadi wartawan, sekaligus redaktur, juga wakil pemimpin redaksi. Dari cuma bertiga, lambat laun Detikcom berkembang hingga 100 lebih awaknya.
Entah mimpi apa, tiba-tiba Sapto ditugaskan oleh CEO Detikcom Abdul Rahman dan Pemred Budiono Darsono ke bagian marketing sales and promotion. Jadilah dia memulai sebagai GM Marketing. Strees pun sempat menghinggapinya selama sekitar 3 bulan, sebelum akhirnya tersenyum karena target tahun 2002 sebesar 3,6 miliar akhirnya tercapai di akhir tahun.
Tahun demi tahun dilaluinya di dunia pencarian iklan banner. Berbagai ilmunya yang sempat dia dapatkan di berbagai pelatihan dan sekolah bisnis Prasetiya Mulya dimanfaatkan. Target selalu dilampaui, hingga tahun 2007 — kecuali tahun 2005 karena BBM naik hampir 100%.
Setelah sukses membangun berbagai produk dagangan Mobile Info, SMS-Iklan, DetikPublishing, AdPoint, dan lain-lain, pada pertengahan 2008 Sapto dipindah lagi menjadi VP Operation/Cheif Operation Officer (COO) yang kemudian dilanjutkan sebagai Direktur Operation.
Organisasi
Selain aktif di pekerjaan, Sapto juga aktif di organisasi. Di lingkungan terdekatnya dia pernah didaulat menjadi ketua RT. Dia dua kali menjabat sebagai Direktur di Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2006-2009 yakni sebagai Direktur Bidang Organisasi dan Bidang Partnership.
Di APJII ini proyek yang paling mengesankan adalah menjadi tuan rumah penyelenggara APRICOT (event internet se Asia Pasifik) yang digelar di Bali 2007, dimana Sapto dipercaya menjadi pencari sponsor yang berhasil menghasilkan sekitar Rp 6,5 miliar (Rp 5 M lebih cash dan sebagian berupa natura).
Sapto juga aktif di IMOCA (Indonesia Mobile & Online Content Association) alias perkumpulan para pengembang konten mobile dan online Indonesia. Dua kali masa jabatan dilakoni, sebagai External Affairs dan Sekretaris Jenderal.
Lagi-lagi Bali menjadi tempat pelaksanaan event yang mengesankan. Akhir 2008 IMOCA sukses menyelenggarakan konferensi di Kuta, Bali, dengan menghadirkan pembicara-pembicara berbobot dari mulai konten, platform teknologi, network, hingga data riset independen.
Berbagai kegiatannya itulah yang sempat mengantarkannya sebagai dosen tamu di Universitas Paramadina sejak 2003-2007. Beberapa kali menjadi pembicara di kampus dan berbagai forum.
Keluarga
Menikahi perempuan kelahiran Solo, Chandrasary sejak 1993 lalu, pasangan ini dikaruniai dua anak yang sudah merangkak remaja yakni Noval Dias (laki-laki, 27 September 1994) dan Bunga Refah (perempuan, 22 Agustus 1998).
Noval sejak SMP kelas 8 hobinya nge-blog di diazhandsome.wordpress.com yang menceritakan kehidupan sehari-hari di sekitarnya. Sementara Bunga sejak kecil lebih banyak berjiwa bisnis.
Hari Sabtu dan Minggu bila tidak ada pekerjaan atau tugas dari kantor dan organisasi, Sapto menghabiskan waktunya dengan keluarga. Setelah melalui perjalanan hidup yang panjang, tentu ada pahit dan getirnya. Semua dilalui dengan tenang.
Perjalanan hidup dan profesinya yang melompat-lompat itulah yang membuat buku Sapto tidak jelas. Ada buku olahraga, ekonomi, politik, bisnis, komunikasi, agama, novel, dan lain-lain. Meski demikian di setiap penugasan dia selalu berusaha maksimal semampunya, ini karena sesuai moto hidupnya: Ingin Menjadi Orang yang Berarti!
October 27th, 2009 at 2:12 pm
dq duh kumaha akagn nulis belepotan
January 15th, 2010 at 4:25 pm
devita, kok nulisnya di sini?
Kirim email saja ke aku. Pertanyaannya apa saja. Bisa?
March 8th, 2010 at 3:14 pm
Mantap pak.
March 8th, 2010 at 3:17 pm
Bpk Sapto Anggoro adalah seorang pribadi yang mengaggumkan.
May 13th, 2010 at 6:46 pm
@Green Card, Terima kasih
GreenCard Says:
March 8th, 2010 at 3:17 pm edit
Bpk Sapto Anggoro adalah seorang pribadi yang mengaggumkan.
June 14th, 2010 at 10:07 pm
Kami Tunggu Bapak di Medan untuk berbagi ilmu dan pengalaman dalam Diskusi pada Musyawarah Cabang Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia Cabang, Sumatera Utara.
June 20th, 2010 at 7:02 am
Mantaaaaabh om.. Proud of u..:)
June 26th, 2010 at 4:50 am
Hello Cool blog, lots of news and useful tips I found here to see prices keep it up
http://www.antivirus.g1wallpaper.com/index.html - antivirus
June 27th, 2010 at 3:01 am
Даже малоиÑкушенному покупателю колонки Zingali покажутÑÑ Ð¿Ñ€ÐµÐ·ÐµÐ½Ñ‚Ð°Ð±ÐµÐ»ÑŒÐ½Ñ‹Ð¼ украшением гоÑтинной.
Ðо когда диффузоры приÑтупают иÑполнÑть музыку, то понимаешь, что дизайн и прÑмые акуÑтичеÑкие обÑзанноÑти доведены тут в полное ÑоответÑтвие. Ðто и изумительно, потому что такие Ñлементы дизайна, как неповторимо ÑмотрÑщиеÑÑ Ñ‡Ð°Ñти конÑтрукции громкоговорителей, предÑтавлÑÑŽÑ‚ Ñобой биÑкÑпоненциальный деревÑнный рупор.
Ð¤Ð¸Ñ€Ð¼ÐµÐ½Ð½Ð°Ñ Ñ‚ÐµÑ…Ð½Ð¾Ð»Ð¾Ð³Ð¸Ñ Omniray, ÑÑ‚Ð°Ð²ÑˆÐ°Ñ Ð¸Ñ‚Ð¾Ð³Ð¾Ð¼ опытов Ñ Ñ€ÑƒÐ¿Ð¾Ñ€Ð½Ñ‹Ð¼Ð¸ конÑтрукциÑми, лежит в оÑнове вÑех моделий акуÑтики Zingali. Она обеÑпечивает довольно обширную Ð´Ð»Ñ Ñ€ÑƒÐ¿Ð¾Ñ€Ð½Ñ‹Ñ… конÑтрукций кривую направленноÑти звука и отличные параметры в Ñредне- и выÑокочаÑтотном диапазоне.
Вопреки тому что ÐЧ-динамик тут традиционный, за Ñчет конÑтруктивных оÑобенноÑтей рупорного фрагмента обеÑпечиваетÑÑ Ð¸Ð´ÐµÐ°Ð»ÑŒÐ½Ð¾Ðµ координирование и неподдельноÑть звучаниÑ.
Как вÑÐµÐ¾Ñ…Ð²Ð°Ñ‚Ñ‹Ð²Ð°ÑŽÑ‰Ð°Ñ Ð°ÐºÑƒÑтика и Ð´Ð»Ñ Ð¼ÑƒÐ·Ñ‹ÐºÐ¸, и Ð´Ð»Ñ ÐºÐ¸Ð½Ð¾ оÑобо интереÑным нам видетÑÑ ÐºÐ¾Ð¼Ð¿Ð»ÐµÐºÑ‚ Italy, в котором рупорный модуль GZ подвергÑÑ Ñильным транÑформациÑм по Ñравнению Ñ Ð¿Ñ€ÐµÐ´Ñ‹Ð´ÑƒÑ‰Ð¸Ð¼Ð¸ верÑиÑми - он Ñтал меньше в диаметре и двухполоÑным.
Так что в отличие клаÑÑичеÑких акуÑтик данной модели здеÑÑŒ мы имеем три полоÑÑ‹, причем как в напольных акуÑтиках Venice и полочниках Naples, так и центральном Ñпикере. Воедино Ñ Ñабвуфером Italy 1.08 получилÑÑ Ð¸Ð·Ñ€Ñдно великолепный набор - и по цене, и по ÑоÑтаву.