Blog Pribadi Sapto Anggoro
Product Pro Pasar vs Product Idealis

Dalam sebuah seminar di Bandung, seorang pengembang komik minta masukan dari para operator yang kebetulan menjadi narasumbr di depan. Para wakil operator dengan ringan dan tangkas langsung menyatakan, bila produk Anda bagus, maka akan diterima.

Produk bagus? Darimana tahu? “Gampang, dalam kasus komik atau buku, kalau saya lihat di Gramedia laris, maka kita akan mau bekerjasama,” kata narasumber dari Operator Seluler. Setali tiga uang, pembicara dari operator lain pun mengamini.

Menyadari situasi tak menguntungkan bagi penanya, maka saya pun mencoba meramaikan suasana dengan jawaban yang agak berbeda. Bahwa dalam membuat produk, apapun, kita dihadapkan pada dua pilihan, sesuai dengan ide kita atau mengikuti (pro) pasar?

Kalau dilihat dari prosesnya, ide yang pro pasar dan idealis pasti berbeda. Idealis biasanya datang dari cita-cita produsen/pemilik mengenai barang yang belum ada, atau barang yang sudah ada tapi ada sesuatu yang khas dan tidak mau tunduk dengan permintaan orang. Sedangkan yang pro pasar, biasanya cenderung barng yang sudah ada dibuat dengan beda kemasan atau tambahan sedikit gimmick. Propasar tidak peduli sebagai follower, yang penting — dalam dugaannya — laris. Kalangan yang berpikir praktis memilih kecenderungan kedua ini.

Nah, dalam situasi itu saya ketengahkan mengenai contoh Google. Sebagai mesin pencari, Google yang lahir tahun 1998 adlah pendatang baru pada waktu itu sementara Yahoo search engine sudah bercokol kuat dan mencengkeram.

Namun, Google sedikit demi sedikit, aplikasinya yang sangat ringan dengan range pencarian yang banyak (high meta crawl), tiba-tiba menohok. Sedikit demi sedikit pamornya naik, dan pada 2002 sudah mengalahkan Yahoo dalam soal mesin pencarian.

Meski sudah laris, tapi Google belum mendapatkan penghasilan yang memadahi. Sementara Yahoo sudah amat sangat kaya dan valuasi perusahaannya bernilai jutaan dolar AS. Banner di kiri kanan telah membuat Yahoo menjadi raksasa.

Google rupayanya tidak mudah tergiur dengan pasar iklan banner. Google, melalui dua orang cerdas pembesutnya Larry Page dan Sergei Brin bertahan anti banner adv. Dia kemudian ketemu dengan Erich Schmidt yang kemudian jadi CEO Google. Sang CEO akhirnya mengambil jalan tengah, agar halaman Google saat pencarian — level 2 — dibagi menjadi dua bagian. Yang 2/3 bagian untuk hasil pencarian, dan 1/3 bagian untuk iklan kata-kata (AdWords). Iklan itu berkorelasi dengan kata kunci yang dicari orang. Misalnya sedang mencari sepatu maka akan muncul produk/toko sepatu.

Dengan mesin pencarian seperti itu, dan tidak tunduk kepada pasar untuk harus mau menerima pemasangan banner, Google telah mempertahankan idealismenya. Dengan mengusung “don’t be evil” maka Google tak henda menyakiti pembaca/pengaksesnya dengan “gangguang” banner seperti halnya media-media lainnya. Alhasil, iklan teks yang tersebut powerful dan menjadi pisau tajam penghasil dolar yang sangat dahsyat.

Tentu Google salah satunya. Ada banyakl contoh orang berangkat dari produk yang idealis. Karena idealismenya sehingga khas. Kekhususan juga menjadi segmented dan bila diterima khalayak, maka akan menjadi mainstream, trendsetter. Biasanya akan mulai banyak penirunya.

Jadi, tidak perlu takut dengan idealisme produk. Kalau produk Anda bagus, punya khas, maka posisi tawar produk Anda akan tinggi. Mungkin bukan Anda yang melamar tapi para operator, para aggregator bisnis akan datang ke Anda.



DIPOSTING OLEH Sapto Anggoro PADA 04.05.10 5:44 pm |

One Response to “Product Pro Pasar vs Product Idealis”

  1. FYI: Telah terbit Novel Biografi”menapak jejak Amien rais” yang ditulis oleh putri beliau sendiri Hanum Rais.
    Pemesanan buku lewat http://www.hanumrais.com akan dapat diskon harga.Semoga berkenan menyebarkan informasi ini ke teman teman bloger lainya….terimakasih.

    HR Management
    Hp.08175495994/081282006481
    fb/email:hanumraiss@gmail.com

    “Transfer nilai-nilai kehidupan, spiritualitas dan kepemimpinan dari seorang Amien Rais kepada puterinya, Hanum Salsabiela Rais, dilukiskan pada buku ini secara lugas, dan amat menarik. Dengan membaca buku ini, kita akan lebih mengenal sisi lain dari ketokohan Amien Rais yang dapat dipetik oleh generasi muda Indonesia lainnya”

    Prof Dr. -Ing. B J Habibie,
    Mantan Presiden Republik Indonesia

    “Buku ini highly recommended untuk memahami bagaimana komunikasi politik berawal dari komunikasi keluarga batih / nuclear family”

    Effendy Gazali. PhD, MPS, ID,
    Prog. Master Komunikasi Politik UI/Alumni Cornell Univ. New York

Leave a Reply