Blog Pribadi Sapto Anggoro
Membedah Otak Steve Jobs

Siapa tokoh IT abad ini? Banyak. Masih ada Sergei Brin & Larry Page (Google), Mark Zuckerberg (Facebook), Mike Lazaridis (Blackberry) atau Steve Jobs (Aple-iPhone).

Nama yang terakhir disebut memang bukan satu-satunya. Tapi sampai saat ini, Steve Jobs masih cukup dikagumi. Siapa yang tidak kagum dengan iPhone dengan layarnya yang lebar diantara semua device (gadget) yang small screen sehingga benar-benar leisure: mau nonton film, full track, lagu dalam format MP3/MP4 yang begitu mudah berpindah file.

Siapa yang tidak kepingin dengan MacBook, mulai dari yang warna putih mewah, hitam dof, MacBook Pro dan iMax yang benar-benar terlahir kembali dan begitu menggiurkan untuk para desainer dan “pekerja” berat pengolah data multimedia.

Saking banyaknya orang yang mengaguminya, Leander Kahney dari wired.com menuliskannya dalam buku dengan judul yang menggoda: Inside Steve’s Brain. Tentu saja Steve yang dimaksud adalah Steve Jobs: Bos Apple Inc. dan orang penting di Pixar.

Tak salah bagi Kahney untuk memberi judul yang berukuran kecil (15×20 cm), agak tebal (294 halaman), dan huruf 10pt tersebut. Di sini, Kahney dalam menuliskan isi kepala Jobs memang perlu melakukan perjalanan investigative dan juga mengikuti secara partisipatif kemana Jobs pergi. Kahney sebelumnya juga menulis buku The Kult of Mac (masih seputar Apple).

Keseharian, termasuk cara Jobs memakai baju yang tanpa kancing, suka memakai jeans, pantang menyerah, selalu mencari yang terbaik, muncul dalam buku ini. Terbaik tak selalu yang termahal, tapi secara fungsi berjalan sempurna.

Pena misalnya, favorit Jobs adalah Pilot: karena enak dipakai menulis. Bajunya yang suka tak berkancing membuatnya “anti button”. Bagi Jobsm desain adalah fungsi. Indah, cakep, menarik, itu semua tidak cukup. Indah-menarik-cakep dan terkesan mewah/megah pun harus diimbangi dengan fungsi. Desian adalah fungsi. Itulah isi kepala Jobs yang mengilhaminya. Design is function not form (p.71).

Perfeksionis dalam desain memang menjadi titik berat kepalanya. Makanya Jonathan Ive yang dianggap sebagai desainer top dia perjuangkan sekuat tenaga untuk mau bergabung bersama mimpinya. Ive saat ini menjadi orang paling di depan dalam hal desain seluruh produk Apple selain Jerry Mannock (ex – Hewlett Packard).

Ive monumental dengan karya iPhone pertama kalinya muncul yang kemudian dikembangkan sampai dengan iPhod shuffle, nano dan lain-lain. Partner lainnya, Mannock lebih banyak terlibat di MacBook.
Dengan gaya tulisan yang renyah, Kahneys cukup berhasil menerjemahkan banyak rahasia sukses di balik kepala Stve Jobs. Termasuk bagaimana dia sekolah terlalu mahal sehingga tidak mampu menyelesaikan yang kemudian justru membuatnya bisa mengikuti pelajaran pilihan soal typografi yang membuat huruf (font) dari Apple sangat kaya dibanding lainnya. Font bank yang ada, sebagian besar sudah dimiliki oleh Apple atau Mac Anda.

Buku ini layak untuk dijadikan bahan bacaan. Penuh inspirasi. Cara penyampaiannya juga enak. Bila pengin instan, cukup membaca resume atau footnote yang ada. Kalau pengin memanfaatkannya seperti kamus, bisa dicek di note. Terusir dari Apple meski sebagai founder, tak membuatnya putus asa. Dia terus belajar. Dan kata-kata yang cukup menarik untuk dijadikan inspirasi adalah: Life is intelligent things, that thing aren’t random.

Judul: Inside Steve’s Brain
Penulis: Leander Kahney (wired.com)
Halaman = 294
Penerbit : Penguin Group
ISBN = 978-1-59184-198-2
Terbitan pertama : 2008



DIPOSTING OLEH Sapto Anggoro PADA 17.01.09 2:12 pm |

One Response to “Membedah Otak Steve Jobs”

  1. FYI: Telah terbit Novel Biografi”menapak jejak Amien rais” yang ditulis oleh putri beliau sendiri Hanum Rais.
    Pemesanan buku lewat http://www.hanumrais.com akan dapat diskon harga.Semoga berkenan menyebarkan informasi ini ke teman teman bloger lainya….terimakasih.

    HR Management
    Hp.08175495994/081282006481
    fb/email:hanumraiss@gmail.com

    “Transfer nilai-nilai kehidupan, spiritualitas dan kepemimpinan dari seorang Amien Rais kepada puterinya, Hanum Salsabiela Rais, dilukiskan pada buku ini secara lugas, dan amat menarik. Dengan membaca buku ini, kita akan lebih mengenal sisi lain dari ketokohan Amien Rais yang dapat dipetik oleh generasi muda Indonesia lainnya”

    Prof Dr. -Ing. B J Habibie,
    Mantan Presiden Republik Indonesia

    “Buku ini highly recommended untuk memahami bagaimana komunikasi politik berawal dari komunikasi keluarga batih / nuclear family”

    Effendy Gazali. PhD, MPS, ID,
    Prog. Master Komunikasi Politik UI/Alumni Cornell Univ. New York

Leave a Reply