Blog Pribadi Sapto Anggoro
Pak Imam Suprayogo Mendorong ICT

Untuk bisa menjadi pelopor dalam hal ICT sering orang sibuk dengan jabatan, gelar, kepakaran, dan lain-lain. Sepertinya orang yang tidak mengerti coding atau configuring tidak layak masuk dalam bagian pejuang ICT. Namun Imam Suprayogo punya cara tersendiri dalam menggerakkan ICT, terutama dalam utilisasi untuk meningkatkan pengguna (usage).

Tokoh kita kali ini adalah seorang profesor, doktor tentu saja. Jabatannya rektor di perguruan tinggi agama, yang berada di lingkungan Departemen Agama, yakni Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang (biasa disebut UIN Malang).

Ketika pertama kali bertemu dalam sebuah kesempatan di kampus UIN Malang pertengahan Oktober 2009, saya sudah menangkap sosok sederhana yang hangat dan rendah hati (humble). Tanpa protokoler, semua orang disapa, seolah tiada jarak, dan saya — bersama rekan lain — pun dijamu dengan makanan sederhana. Alamak, dengan enteng “saya suka sekali terong balado, jadi hampir selalu ada,” tukasnya sambil memulai makan dengan tangan telanjang.

Apa hebatnya orang ini? Sebelum ditulis di sini sebenarnya dia sangat-sangat hebat. Pak Imam ternyata sudah mengantongi rekor MURI karena menulis di blog pribadi, blog kampus, dan facebook, selama setahun sejak Juli 2008-2009 tanpa jeda. Setiap hari, tanpa jeda. Tidak ada hari yang kosong yang dia tidak menulis.

Apa yang disampaikan? Tidak perlu dipermasalahkan. Seorang profesor - doktor pasti tidak akan sembarangan menyampaikan materi kepada khalayak. Bukan rekor MURI yang menjadi pangkal saya menulis beliau dengan cara terhormat. Namun, karena setiap hari menulis, maka jarak dia untuk memberikan kuliah kepada mahasiswanya, tidak ada lagi, dan berlangsung terus menerus, setiap hari, dimanapun dan kapanpun bisa diakses.

Dengan seringnya diakses, maka otomatis tingkat utilisasi bandwidth internet kampus menjadi tinggi, peningkatan usage pun terjadi. Tidak harus dengan cara pronografi, game, sensasi untuk meningkatkan jumlah dan kualitas pengguna.

Tidak harus dari orang dengan latar belakang ICT untuk menjadi penggerak ICT itu sendiri. Siapapun bisa. Dan Pak Imam punya cara sendiri, yang bisa membuat orang di ICT dan yang mengaku wartawan/penulis pun malu hati. Sampai saat ini, masih setiap hari menulis. Awalnya, gara-gara setelah shalat subuh dia merasa ada waktu kosong yang harus diisi sesuatu yang bermanfaat, maka menulis adalah pilihannya.

“Saya juga akan menghargai dosen-dosen saya yang bisa menulis menyaingi saya,” kata Imam. Secara terbuka Imam akan menantang dosennya agar menulis. Dia menyediakan hadiah bagi yang menulisnya paling banyak, tidak tanggung-tanggung sebuah mobil sekelas avanza. Terbanyak kedua akan dapat sepeda motor. “Terbanyak ketiga akan saya kasih sepeda pancal (onthel),” tukasnya.

Saat ini, dengan apa yang dilombakan itu, pengguna dari kampus menjadi tinggi. Tingkat kunjungan dan traffic log meningkat. Kebutuhan bandwidth bertambah. Tawaran sumbangan dan kerjasama pun meningkat. Sadar demikian, maka perhatian Imam pada ICT pun luar biasa. “Saya tidak mau kalah dengan universitas umum,” katanya.

Jadi, siapapun bisa berbuat untuk bidang apapun, tanpa harus menjadi pakar di bidang itu, tentu dengan cara-cara yang unik.



DIPOSTING OLEH Sapto Anggoro PADA 27.10.09 4:35 pm |

Leave a Reply