Wah lama nggak nulis nih. Tiba-tiba kok pengin menulis juga, setelah dua pekan lalu kita kehilangan budayawan besar, WS Rendra. Yang menjadi menggelitik ingin menulis adalah ketika melihat reaksi dari teman-teman di milis tempat aku berada di dalamnya. Kok Presiden SBY tak memberi ucapan belasungkawa kepada Rendra, justru ke Mbah Surip?
Yang dipersoalkan teman-teman adalah apresiasi presiden. Mereka berpendapat bahwa presiden sudah mengapresiasi Mbah Surip yang meninggal pada 4 Agustus, dimakamkan di lokasi Bengke Teater milik Rendra. Lalu dua hari kemudian, Kamis 6 Agustus gilirian Rendra meninggal.
Teman-teman di milis makin uring-uringan ketika di televisi banyak yang salah-salah menyampaikan fakta-fakta tentang Rendra, yang anaknya ‘cuma’ 5 (mestinya 11), atau hanya menyebut istri pertamanya Sunarti Suwandhi tanpa menyebut Sitoresmi dan salah menyebut Clara Sinta anak siapa karena ada yang keseleo anaknya Ken Zuraida dan lain-lain kesalahan oleh pembaca acara tv masa kini.
Saya sempat protes juga kok Presiden melihat kebesaran Mbah Surip tapi tidak pada Rendra. Bahkan Emhan Ainun Nadjib yang teman akrab Rendra juga marah sama sikap televisi yang seolah terlalu membesarkan Mbah Surip ketimbang Rendra.
Sebenarnya siapa yang picik, siapa yang egois? Rendra menurut saya, besar. Kebesarannya jauh lebih dari sekadar di-ignore oleh Presiden. Karyanya, sumbangsihnya di dunia sastra Indonesia, di dunia teater, dan membangun SDM tater yang top adalah tak tergantikan siapapun. Adi Kurdi, Amak Baljun, Danarto, dan sederet nama-nama besar, pasti kagum sama Rendra. Belum lagi prasasti piagam dan award yang dikantongi. Bahkan Maret lalu pun UGM memberikan gelar doktor HC pada Rendra.
Mbah Surip? Tentu tak sebanding dengan Rendra. Namun mestinya bisa dimaknai lain ketika media dianggap terlalu membesarkan atau presiden terasa salah kalau memberikan ucapan belasungkawa padanya bila ke Rendra tidak.
Mbah Surip, suka tidak suka, sedang in atau naik daun. Dia tiba-tiba ngetop, sedang di atas. Pengasilan RBT-nya yang kemudian sontak didownload ratusan ribu orang dengan asumsi valuasi Rp4 miliar lebih, tentu sedang jadi buah bibir siapapun.
Itu tidak terkecuali SBY yang mengaku punya cucu dan suka menyanyikan lagunya Mbah Surip. Mungkin pribadi sekali, karena dia pun punya rasa pribadi dan sehingga dikabarkan menyumbang belasan juta kepada si Mbah. Tapi saya juga punya kesimpulan lain, bahwa dalam hal ini benar-benar SBY memang presiden Pop. Dia menjadi bagian dari pop culture yang sedang berkembang sekarang, jadi tak begitu aneh kalau dituduh sebagai mendompleng ketenaran Mbah Surip.
Ihwal uring-uringan teman-teman pada media yang dianggap membesarkan Mbah, sebenarnya tidak tepat benar. Media, bagaimanapun harus dekat dengan khalayaknya. Saat ini, khalayak jauh lebih kenal Mbah Surip ketimbang Rendra.
Tidak atau jangan diadu soal karya dan sumbangsih yang sustainable. Apakah masyarakat peduli dengan karya sustainable, belum tentu. Rendra memang tak berhenti berkarya. Namun dia sudah lama ada, dan ada di hati generasi yang lebih matang, tua, dan kalau tak boleh disebut adalah masa lalu. Generasi sekarang sudah terlanjur kenal Mbah Surip. Jadi kalau soal media, kita mesti bicara hal yang kini, bukan totalitas karya yang besar atau monumental dalam waktu lama. Suka tidak suka, justru karena baru muncul langsung top, Mbah Surip melambung. Juga lantaran tak banyak fakta yang diketahui tentang Mbah inilah media mesti mengungkapkannya lebih dalam, siapa dia, anaknya, asalnya, istrinya, kehidupannya, rambutnya, dan lain-lain.
Mbah Surip cuma lewat, tapi Rendra jauh lebih banyak monumental karya yang bisa ditilik, dipelajari, dibaca, dipraktekka. Apapun, Rendra lebih berarti. Tak cukup diukur oleh belasungkawa penguasa negeri.
DIPOSTING OLEH PADA 10.08.09 1:42 pm |
June 2nd, 2010 at 2:34 am
FYI: Telah terbit Novel Biografi”menapak jejak Amien rais” yang ditulis oleh putri beliau sendiri Hanum Rais.
Pemesanan buku lewat http://www.hanumrais.com akan dapat diskon harga.Semoga berkenan menyebarkan informasi ini….terimakasih.
HR Management
Hp.08175495994
fb/email:hanumraiss@gmail.com
“Transfer nilai-nilai kehidupan, spiritualitas dan kepemimpinan dari seorang Amien Rais kepada puterinya, Hanum Salsabiela Rais, dilukiskan pada buku ini secara lugas, dan amat menarik. Dengan membaca buku ini, kita akan lebih mengenal sisi lain dari ketokohan Amien Rais yang dapat dipetik oleh generasi muda Indonesia lainnya”
Prof Dr. -Ing. B J Habibie,
Mantan Presiden Republik Indonesia
“Buku ini highly recommended untuk memahami bagaimana komunikasi politik berawal dari komunikasi keluarga batih / nuclear family”
Effendy Gazali. PhD, MPS, ID,
Prog. Master Komunikasi Politik UI/Alumni Cornell Univ. New York