Dua pekan lalu saya diundang oleh Universitas Bina Nusantara untuk kelas internasional. Di sana kami – saya sebut begitu karena banyak sekali narasumber yang diundang – untuk terlibat dalam focus discussion group (FDG).
Tujuan utama FDG adalah tak lain agar bagaimana lulusan universitas tersebut siap menghadapi masa depan lebih baik, siap menghadapi persaingan di depan, dan tak kalah pentingnya lulusannya bisa sesuai dengan industri yang sedang bergerak ke depan.
Diskusi menarik sekali. Beberapa narasumber, dalam kelompok kecil yang terdiri 6 orang per grup, dibagi dalam banyak sector. Kebetulan dari sisi kreatif. Teman-teman semua memberikan kritikan yang tajam bahwa banyak universitas yang menghasilkan strata-1 ternyata kalah dengan anak-anak SMK. Saat ini banyak pengusaha lebih melirik anak-anak SMK yang kerjanya cepat dan tidak banyak tuntutan.
Sebagai pihak tuan rumah yang berusaha akomodatif, kesannya sang dosen jadi sangat-sangat menerima semua masukan dari narasumber yang tiba-tiba jadi orang paling jagoan kumpul bersama. Padahal, dalam praktek nyata, kesulitan di dalam usaha juga bukan hal yang mudah diselesaikan dan selalu muncul dengan bentuk-bentuk yang lain. Meski sebenarnya sikap open mind-nya bisa mengoleksi banyak masukan yang siap diolah.
Melihat situasi yang kurang kondusif, saya sampaikan pada moderator yang juga dosen tetap di situ, agar tidak mudah menerima informasi dari narasumber. Kebetulan semua narasumber pengusaha, sehingga pikirannya irit, selalu berusaha mengendalikan operasional dengan biaya yang murah. Termasuk biaya gaji meski tidak selalu benar karena tetap diperhitungkan dengan nilai kontribusinya.
Nah, yang menarik adalah ketika ditanyakan apakah ada kurikulum mengenai bisnis model, ternyata terus terang tidak ada. Di era dunia IT yang semakin berkembang seperti saat ini, model bisnis bisa lahir sejuta macam.
Ada model bisnis dengan nama umum revenue share, net share after cost, cost ownership program, cross media cost, marketing cost share, dan beribu nama model bisnis terhampar luas saat ini. Tinggal comot, tinggal diperhitungkan keuntungan kerugian dan kemauan kita. Tinggal memperhitungkan kekuatan perusahaan kita, kekuatan perusahaan partner, pendeknya berangkat dari kelebihan dan kekurangan partner.
Saat ini partner tidak hanya satu, tapi bisa berdua, bertiga, bahkan multiple partner, yang mana tidak ada atasan dan bawahan, intinya adalah potensi masing-masing dioptimalkan, supaya menghasilkan apa yang diharapkan dengan tujuan akhir keuntungan/kemakmuran bersama.
Tatkala kami ber contoh bahwa media IT dengan bisnis utama konten dengan pengakses yang tinggi, ternyata dalam menjalankan bisnis modelnya adalah dengan barter, dimana itu adalah model bisnis yang sangat tradisional ternyata masih berjalan. Namun jangan salah, ada perusahaan yang tidak memiliki brand besar, hanya memiliki kompetensi sebagai pembuat animasi, ternyata setelah numpang di jaringan distributor jadi sangat besar. Seperti yang terjadi dengan Pixar Studio, dimana setelah sukses didistribusikan oleh Walt Disney, beberapa tahun kemudian minta bagi hasil dan akhirnya Pixar mendapatkan saham kepemilikan Disney. Sang macan yang dipelihara tiba-tiba mengatur induknya.
Namanya juga FDG, waktu semakin larut. Suasana sudah ingar bingar, memanas, tapi diskusi harus selesai. Masih beribu pertanyaan mengambang. Model bisnis, satu hal yang tidak nyata, ada di otak dan bahkan hasil kreativitas tidak kentara, tapi merupakan software penting yang bisa menentukan masa depan usaha. Di era industri kreatif saat ini, yang sedang digemborkan oleh pemerintah, akan lebih bagus kalau dalam kreativitas model bisnis juga berkembang.
Yang bagaimana? Kembangkanlah sendiri.
DIPOSTING OLEH PADA 29.03.09 11:14 am |
May 11th, 2009 at 5:49 pm
Ini renyah menarik…memang jarang ya sekolah yang ginian. Full teori dosennya kurang ‘browsing’