Blog Pribadi Sapto Anggoro
‘Jombang’ Dahsyat

Bukan ucapan saya itu, tapi komentar teman yang merasa heran dengan kota kecil di Jawa Timur itu. Kota ini memiliki nama-nama besar, sepanjang sejarah, dari berbagai jenis bidang. Ponari adalah salah satu fenomena. Apa benang merah Jombang?

Melahirkan orang-orang top, barangkali itu yang menjadikan julukan bagi Kota Jombang. Dari kota ini telah lahir nama besar, dengan kontribusi tingkat nasional di berbagai bidang. Bidang agama ada KH Hasyim Asy’ari, pemikiran teknokrasi politik ada Nurcholish Madjid, budayawan lahir nama Emha Ainun Nadjib, sumbangan sebagai preside nada Abdurrahman Wahid (Gus Dur), di bidang penegakan akidah yang selalu dituding teroris ada Ustad Abubakar Ba’asyir. Kemudian ada seniman Asmuni, juga fenomenon tukang jagal Very Idham Henyansah (Ryan), dan sekarang dukun cilik Ponari. Masihkah Jombang melahirkan orang-orang dahsyat?

Kita mulai dari KH Hasyim Asy’ari. Dialah yang mendirikan pilar ajaran Islam yang lebih membumi dan merakyat dengan pendiriannya Nahdhlatul Ulama (NU). Lahir di Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 dan meninggal 1947, KH Hasyim Asy’ari yang kemudian disebut sebagai Hadratus Syeikh ajaran-ajarannya tak lekang dan lapuk oleh debu dan rayap. Sampai kini, ajaran NU bahkan diyakini paling luas dan besar pengikutnya di Indonesia.

Ajaran dan nilai itu dilanjutkan oleh anaknya, KH Wahid Hasyim yang juga memberi kekuatan NU makin moncer dan hingga Wahid Hasyim merupakan menteri agama di era Soekarno. Dialah kalau boleh disebut sebagai bapak dari IAIN (sekarang Universitas Islam Negeri / UIN).

Kemudian di babak berikutnya, lahir tokoh muda berbakat yang santun tapi komentar-komentarnya kuat. Dialah Nurcholish Madjid, mantan ketua HMI (Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia tahun 1969 s/d 1971. Cak Nur – begitu biasa dipanggil, adalah asli Mojoanyar, Jombang.

Dibesarkan dari keluarga pesantren, pemikiran Cak Nur dikesankan nyeleneh karena cenderung lebih dekat ke Muhammadiyah. Dia lebih memilih organisasi mahasiswa HMI yang cenderung berafiliasi ke Muhammadiyah ketimbang PMII yang lebih bernafas NU. Pemikiran-pemikiran egaliter dan moderat Cak Nur sehingga dia menjadi perhatian luas, bahkan disebut sebagai bapak bangsa dan salah satu technokrasi politik Indonesia. Perannya sebagai “pendesak” Soeharto untuk turun dari kursi presiden RI cukup besar ketika dia menolak menjadi ketua komite reformasi bentukan Soeharto.

Ada lagi yang pake Cak, yakni Cak Nun. Meski tidak sebesar Cak Nur namanya, namun Cak Nun yang bernama lengkap Mohammad (eMHa) Ainun Nadjib memberikan sumbangan yang banyak dalam dunia kebudayaan. Dia arek Jombang asli yang dilahirkan pada 27 Mei 1953, anak ke-4 dari 15 bersaudara, dari Desa Menturo, Sumobito, Jombang.

Cak Nun selain sebagai budayawan juga aktif menulis kolom, mengelola kelompok seni Kyai Kanjeng, pemimpin pengajian Padhang Mbulan, dan beristrikan artis cantik Novia Kolopaking. Emha telah menurunkan bakat budayanya pada sang anak Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe yang jadi motor dan penyanyi grup band Letto.

Di Srimulat ada pelawak top, salah satunya adalah Asmuni (Totok Asmuni). Paling sering dia menyampaikan bahwa dirinya asli dari Diwek, Jombang. Ini memang daerah di selatan kota Jombang yang sebenarnya masih “membawahkan” desa Tebuireng. Kesannya Diwek itu kampong banget dengan cara Asmuni bicara, tapi intinya dia ingin mengangkat pamor Diwek itu lebih dari Tebuireng. Sebenarnya Asmuni dilahirkan di Surabaya Jawa Timur, 17 Juni 1932. Namun sejak kecil sekolah dan hidup di Jombang, maka lelaki yang top dengan kata-kata “Hil yang Mustahal” itu pun diakui sebagai bagian dari orang dahsyat Jombang.

Kontribusi Jombang buat negeri ini adalah, kota ini pernah melahirkan seorang Presiden, yakni Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menjabat pada 1999-2002. Gus Dur yang lahir di Denanyar, 4 Agustus 1940. Selain memimpin negeri yang cukup singkat, karena diturunkan oleh anggota dewan, Gus Dur juga pernah memimpin NU cukup lama, hampir 20 tahun. Gus Dur juga adalah dewan pendiri sekaligus ketua dewan syura Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang sekarang dipimpin Muhaimin Iskandar.

Mungkin sudah banyak cerita lain tentang kisah orang Jombang bernama Ryan si tukang jagal 11 orang, sehingga tidak perlau disampaikan di sini. Begitu juga untuk Ustadz Abubakar Ba’asir yang asli Mojoagung, Jombang, sudah banyak ceritanya.

Tampaknya Ponari yang sekarang tak kalah fenomenal dan monumental. Konon, gara-gara dia main hujan-hujanan dan kemudian ada hujan geledek tiba-tiba sambaran petirnya melemparkan batu di kepalanya, maka batu aneh itu diyakini bisa menyembuhkan penyakit.

Cerita yang sebenarnya baru disampaikan pada Januari lalu, dalam waktu singkat membuat bocah kelahiran 6 Juli 1999 anak dari pasangan Mukaromah-Kamsen itu kemudian menghentakkan nasional. Tempat tinggalnya di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang jadi meriah. Puluhan ribu manusia yang datang dari seluruh Indonesia membuatnya menjadi fenomena.

Wajah Jombang

Tahukah Anda apa itu Jombang. Kota ini diyakini bentukan dari dua kata Ijo (hijau) dan Abang (merah). Mengapa demikian, karena sebenarnya Jombang itu masyarakatnya. Monografi Kabupaten Jombang, ijo bermakna kesuburan serta sikap bakti kepada Tuhan Yang Mahaesa, sementara abang dimaknai sebagai sifat berani, dinamis, atau sikap kritis dan abangan yang nasionalis dan kejawen.

Untuk daerah pinggiran, masyarakat Jombang cenderung agamis dan agraris. Sedangkan masyarakat perkotaan cenderung kritis, dinamis, dan abangan. Bahasa yang berkembang bila dari pedalaman cenderung santun dan terutama wilayah barat seperti kecamatan Perak, Kec. Gudo, Kec. Ploso, masih memiliki pengaruh Mataraman dalam gaya bahasanya karena dekat dengan Nganjuk. Sedikitnya ada 50 pondok pesantren hidup di Jombang besar-kecil ataupun pondok putri/putra.

Namun untuk daerah perkotaan ke timur, seperti kecamatan Jombang, Peterongan, Mojoagung, sudah mirip dengan gaya Suroboyoan. Sudah mulai kesulitan menemukan remaja bisa berbahasa Jawa kromo inggil tapi cenderung ngoko (kasar) yang mengesankan egaliter. Abang ini juga mencerminkan seuatu yang kurang bagus, karena benar-benar bertolak belakang dengan yang hijau dimana yang merah ini kulturnya keras, dekat dengan kehidupan suka judi, minum, bahkan pelacuran.

Di bagian yang hijau telah melahirkan pemaknaan yang besar di bidang agama dengan banyaknya pesantren, di sisi lain sebenarnya kelompok merah (abang) juga melahirkan besutan. Apa itu besutan? Ini adalah cikal bakal lahirnya ludruk yang merupakan kesenian khas Surabaya.

Dalam besutan, semua pemainnya dilakukan oleh laki-laki tapi bisa berperan perempuan dengan mengubah dandanan. Bahasa dalam besutan ceplas-cplos saling lempar, saling ledek, dan konon juga dipakai sebagai bagian alat perjuangan pada masa Belanda. Tidak mengherankan bila banyak orang Jombang masuk menjadi seniman, termasuk seniman seperti Srimulat ataupun Ludruk yang sudah mulai tergerus.

Untuk bidang keilmuan, untuk level masyarakat kelas menengah ke bawah, muncul istilah Kiroto (dikiro-kiro tapi nyoto) atau ilmu gathuk alias ngepas-ngepaskan. Kadang memaksakan logika. Ilmu Kiroto itu adalah memaknai sesuatu dengan cara mengira-kira, dan bila cocok, dengan entengnya dianggap sebagai kebenaran.

Jombang sebenarnya tidak menjadi apa-apa ketika Majapahit (berpusat di Trowulan Mojokerto) masih berkuasa. Namun ketika Majapahit runtuh, Jombang menjadi memiliki kekuatan dan potensi sendiri. Dari Barat Jombang menjadi penahan akhir budaya Mataraman.

Meski tampaknya hitam-putih atau ijo-abang yang seolah dikotomis, bagaimanapun terjadi sosialisasi dan asimilasi dalam masyarakatnya dan menjadikan masyarakatnya menjadi bersifat moderat, egaliter, pragmatis, dan terbuka pada hal-hal baru.

Selain pondok pesantren, sebenarnya Jombang tidak berarti sepenuhnya hijau atau merah. Justru sikap egaliternya itulah orang Jombang menghargai agama lain. Hampir tidak pernah terdengar kerusuhan SARA di sini. Saat kerusuhan SARA anticina pada awal 1980-an, Jombang ternyata adem ayem. Pertikaian antarumat beragama juga sebenarnya tidak terengar karena egalitariannya itu. Bahkan gerakan ordo kelompok jemaat Kristiani Jawi Wetan muaranya berpusat di Jombang. Tepatnya di wilayah Kecamatan Mojowarno, sekitar 5 kilometer dari Tebu Ireng, Jombang. Sedangkan di kawasan Tejoagung Ngepeh, Ngoro, penganut Hindu masih hidup dan leluasa melaksanakan peribadatan.

“Masyarakat sudah lama hidup bersama. Mereka bahkan mendirikan tiga rumah ibadat masing-masing secara berdampingan. Selama ini belum pernah terjadi konflik berlatar agama di Jombang,” kata Bupati Jombang Suyanto.

Secara keseluruhan masyarakat Jombang agraris dan cita-cita yang banyak mempengaruhi pemuda setempat adalah menjadi amtenaar (pegawai) atau tentara (TNI) dan polisi. Semangat dan mentalnya menjadi yang terbaik menjadikan banyak yang mengejar pendidikan tinggi dan ingin menjadi pejabat seperti bekas Gubernur Jatim Imam Oetomo, bekas KSAU Rilo Pambudi dan lain-lain. Yang agak susah justru mencari entrepreneur asli Jombang yang berkelas nasional/internasional.

Yang unik, meski gampang akrab dalam pergaulan, proximity kedaerahan sebagai rasa sesama Jombang ketika berada di perantauan, tidak terlalu menonjol. Tidak seperti persatuan orang Lamongan (Pualam) yang kokoh, atau kekerabatan Kertosono di Jakarta, dan lain-lain. Orang Jombang lebih cair.



DIPOSTING OLEH Sapto Anggoro PADA 31.01.09 1:29 pm |

5 Responses to “‘Jombang’ Dahsyat”

  1. muga-muga cak nun mimpin Indonesia

    hidup Indonesia jaya!

  2. @ Titis: Belum tahu tuh Tis, Luna setahuku Bali. Kan bos online terbesar Bojonegoro loh Tis.

    Persibo gak bayangno nek mau ke Jepang — home and away — duwite cukup tah. Trus wong Jepun main ke Bojonegoro…..pasti kalah. Soalnya sudah mabuk di perjalanan.

  3. Ada yg kelupaan: Penjahat yg sangat ditakuti di jamannya, Kusni Kadut. Salman Hafidz, yg dianggap teroris, padahal ‘ciptaan’ Indonesia. Terus adiknya Salman, Wardah Hafidz. Semua dari Jombang…!!!

  4. Woi Anda punya infolain toh. Untuk Kusni Kasdut, menurut kamus adalah dari Blitar bos.

  5. FYI: Telah terbit Novel Biografi”menapak jejak Amien rais” yang ditulis oleh putri beliau sendiri Hanum Rais.
    Pemesanan buku lewat http://www.hanumrais.com akan dapat diskon harga.Semoga berkenan menyebarkan informasi ini….terimakasih.

    HR Management
    Hp.08175495994
    fb/email:hanumraiss@gmail.com

    “Transfer nilai-nilai kehidupan, spiritualitas dan kepemimpinan dari seorang Amien Rais kepada puterinya, Hanum Salsabiela Rais, dilukiskan pada buku ini secara lugas, dan amat menarik. Dengan membaca buku ini, kita akan lebih mengenal sisi lain dari ketokohan Amien Rais yang dapat dipetik oleh generasi muda Indonesia lainnya”

    Prof Dr. -Ing. B J Habibie,
    Mantan Presiden Republik Indonesia

    “Buku ini highly recommended untuk memahami bagaimana komunikasi politik berawal dari komunikasi keluarga batih / nuclear family”

    Effendy Gazali. PhD, MPS, ID,
    Prog. Master Komunikasi Politik UI/Alumni Cornell Univ. New York

Leave a Reply