Blog Pribadi Sapto Anggoro
Science of Correlatives

Karikatur di halaman Opini Kompas edisi 21 Februri 09 cukup menggelitik. Digambarkan seorang bocah belajar bahasa Indonesia, mengenai kata PEMILIH berasal dari kata PILIH mendapat awalan PE, sehingga arti PEMILIH= orang yang milih.

Kemudian di bawahnya mengenai kata PEMILU, disitu disebutkan berasal dari kata PILU, mendaapat awalan PE sehingga arti PEMILU = orang yang..(pilu).

Saya senyum kecut sedikit mengumpat sialan. Usil juga Om Pasikom. Orang bisa saja tidak sadar bahwa yang disampaikan OmPasikom adalah benar. Padahal, semua juga tahu, Pemilu tidak ada kata dasarnya (kata asal), sebab itu merupakan singkatan dari pemulihan umum. Dengan yang disampaikan itu seolah bahwa pemilu membuat pilu.

Sah-sah saja orang mengutarakan opini dengan berbagai macam model. Pemusik lewat lagu, sutradara lewat film, wartawan lewat artikel atau mencari sumber berita yang sesuai dengan idenya, dan kartunis atau karikaturis lewat goresan/gambarnya.

***

Ketika di Jombang ada seorang bocah SD berumur 8 tahun bernama Ponari dengan batu ajiannya dianggap mampu menyembuhkan segala penyakit, belasan ribu orang setiap hari memenuhi Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Megaluh, Jombang, Jawa Timur.

Nama Ponari sangat top. Nama kota Jombang juga kembali ngetop. Lantas, orang mulai memainkan kelirumologi dan memplesetkan nama Ponari dengan Pocari. Karena yang menjadi kedahsyatan dari Ponari itu konon apabila air sudah dicelupi batu yang dipegang langsung Ponari, maka orang pun heboh.

Karena kehebohan itulah, maka orang berdesakan berebut air sentuhan batu+tangan Ponari. Dahsyatnya rebutan hingga menimpa korban, sedikitnya 4 orang meninggal akibat berdesakan, mengenaskan.

Nah, ada yang iseng untuk menghindari korban yang lebih luas, yakni AIR PONARI sudah diproduksi massal, jadilah PONARI SWEAT (keringat Ponari), plesetan dari Pocari Sweat.

***

Salah satu ornamen atau benda yang saya sukai adalah JENDELA. Karena menurut saya jendela memiliki filosofi yang menarik. Meski tidak haru besar sebesar pintu utama, tapi jendela memiliki fungsi sirkulasi yang kuat. Tidak besar tapi penting dan menyehatkan.

Bayangkan bila rumah tanpa jendela, pasti akan bikin pengap dan memboroskan, paling tidak harus pasang air condition atau ex-house. Kebetulan dalam bahasa Inggris, jendela itu artinya window.

Entah kebetulan atau tidak bahwa Bill Gates mengambil kata windows yang merupakan produk utamanya itu filosofinya seperti saya atau tidak, saya tidak tahu.

Nah nampaknya bahasa Inggris dan Indonesia dalam hal ini memiliki keselarasan turunan. Kalau kata WINDOW dihilangkan huruf (n) maka yang terbaca adalah WIDOW.

Nah, karena WINDOW itu artinya JENDELA, maka kalau WIDOW artinya dalam bahasa Indonesia sama, yakni JANDA-lah…maksa banget ya?

***

OK, mumpung lagi di cafe nungguin teman yang belum datang, iseng saja. Biar kelihatan kerja di mata orang lain, serius nih. Ada satu hal lagi, bahwa kepribadian bangsa bisa dilihat dari bahasanya.

Kalau orang Jawa, seperti halnya dengan huruf dan caranya menulis dalam alphabet ha-na-ca-ra-ka, maka kalau sebuah huruf itu sudah mendapat pangkon (dipangku), maka akan mati. Misalnya kata ma-ha-la, nah di akhir la mendapatkan pangkon (dipangku) maka akan terbaca “mahal”, huruf “a”-nya hilang.

Orang Jepang, kalau menulis tata aturannya adalah dari atas ke bawah (vertikal atau trickle down effect). Tak heran bila orang Jepang sangat-sangat menghormati seniornya. Tidak grusa-grusu yang muda seenaknya saja menghajar yang lebih tua. Kalaupun mau naik, paling tidak mereka harus minta izin kepada yang tua.

Nah, suatu hari saya kedatangan tamu dari Inggris dan Amerika yang datang ke kantor. Mereka menawarkan program kerjasama musik. Saya bilang tak menarik karena saat ini konsentrasi pada bisnis RBT (ring back tone) dengan operator.

Kedua orang itu mencibir, masyarakat Indonesia aneh, Korea, Jepang, Thailand dan Filipina juga unik, katanya. Mengapa kok rela-relanya berlangganan lagu yang tidak didengarkan sendiri tapi untuk lawan bicara (orang yang menelepon).

Lantas saya bilang, bahwa orang Asia memang peduli dengan orang lain, menghormati tamu, menyenangkan kawan, tidak egois dan sombong seperti orang Amerika dan Inggris. Kedua orang itu terperangah. Saya jelaskan, bukti nyata bahwa orang Inggris dan AS sombong, arogan, tidak mau mengalah itu jelas. Bagaimana tata bahasa Anda menuliskan kata saya = I di dalam kalimat? Bolehkah saya menulisnya memakai huruf kecil? “Tidak bisa,” sergah mereka. Itulah kesombongan. Why you can’t write I with little letter for ’saya’? Just for your information, we should write Anda with capital letter for ‘A’ and that’s mean ‘you’”.

Kedua tamu itu tersentak diam seribu bahasa sebelum akhirnya saya tawarkan air mineral dan tertawa bersama untuk menghindari ketegangan. Ini mungkin kata orang sekolahan disebut sebagai sosio linguistik yang korelatif dengan psiko sosial.

Tapi maaf saudara-saudara, kalau sampai Anda membacanya terlalu serius, sekali lagi mohon maaf. Sebab, sebenarnya poin-poin di atas hanyalah ’science of correlatives’. Maksudnya? Itu ilmu orang Jawa yang disebut ilmu gathuk diotak-atik mathuk (cocok). Pokoknya dipas-pasin gitu lo.



DIPOSTING OLEH Sapto Anggoro PADA 21.02.09 9:09 am |

5 Responses to “Science of Correlatives”

  1. Wah….beritanya ada dimana-mana nich…..great post….

  2. Endingnya ternyata……asyik juga sih

  3. Whoa! You did a awesome job. You should write more often!

  4. @Than, thanks for your support

  5. Autodesk AutoCAD Inventor Suite 2010 32 64 bit - Xara Xtreme PRO 5 Acronis Disk Director Server 10 Adobe Premiere Pro CS4 Microsoft Office Home and Business 2011 MAC Adobe Illustrator CS5 Student and Teacher Edition MAC

Leave a Reply