Blog Pribadi Sapto Anggoro
Mantra Justru

Dalam perjalanan naik kereta Jakarta-Surabaya, kebetulan duduk bersebalahan dengan anak muda yang dari tongkrongannya berkecukupan, rapi, sopan, tidak terlalu banyak bicara, dan pengetahuannya tidak buruk-buruk amat. Lalu apa hubungannya dengan justru?

Kami memulai pembicaraan seperti biasa, basa-basi, tujuan kemana, dari mana, tinggal dimana, sekolah dimana dan lain-lain. Akhirnya dia membuka bahwa sudah setahun sejak selesai sekolah belum bekerja. Alasannya macam-macam: tidak banyak relasi, orang tuanya baru memasuki pensiun, adiknya masih harus sekolah, dia sendiri lulusan kuliahnya swasta, dengan nilai yang standar IPK di bawah 3, dan lain-lain.

Sejenak saya tercenung. Apakah karena segala kekurangannya itu kemudian dia susah cari kerja, atau memang dia malas. Dia mengaku mau bekerja apa saja, asal halal (jawaban umum). Namun dia menginginkan kerja kantor, administrasi, tidak mau jadi sales yang maksa-maksain orang membeli produk.

Pada saat yang lain, saya mendapat kiriman email tentang seorang perempuan yang sejak lahir tak memiliki tangan tapi bisa menerbangkan pesawat, mengendarai mobil, dan bisa menari balet dengan sangat sempurna, menjadi taekwondoin, dan lain-lain. Semua dilakukan dengan kaki.

Yang menarik dari email ini adalah, sejak kecil dia, yang bernama Jessica Cox selalu bilang tidak ada yang tidak bisa.

Jika dipertentangkan, antara teman yang ketemu di kereta dengan Cox, pasti akan berpikir mengapa yang lengkap tak bisa ngapa-ngapain tapi justru yang buntung bisa ngapa-ngapin dan penuh prestasi. Semua pengalaman Jessica menjadi inspiring bagi seluruh negeri AS. Dia menjadi kebangaan warga Tucson, Arizona, AS.

Kita tentu tidak boleh menyerah. Kita tentu harus menyuskuri nikmat yang ditakdirkan dan yang kita miliki. Diantara yang kurang, pasti ada sisi kelebihan. Kekurangan tak berarti menyerah. Untuk itu, bagi yang merasa kurang, buang jauh-jauh. Yakinlah bahwa Anda memiliki kemampuan. Anda harus berani melontarkan kata Justru.

Mantra justru ini akhirnya saya cekok-kan ke anak tersebut. Justru karena orang tua Anda pensiun maka Anda harus bisa menunjukkan prestasi dan memberikan penghasilan. Justru bahwa adik Anda perlu sekolah lebih baik itulah Anda harus berusaha bekerja, apapun sesuai kata hati, untuk bisa membantu adik-adik.

“Tapi saya tidak punya relasi,” sergahnya. “Justru Anda tidak punya relasi itulah Anda harus mencari sebanyak-banyaknya, agar punya relasi,” jawab saya memberi semangat.

Entah apa yang menginspirasi saya, tiba-tiba kata Justru menjadi mujarab untuk dicekokkan kepada anak muda ini. Kata-kata “tapi” selalu saya benturkan dengan mantra “justru”.

Justru dengan sekolah dari swasta seharusnya memberikan isnpirasi Anda untuk menunjukkan bahwa Anda tidak kalah dengan yang lolos sipenmaru, kata saya. Kalimat “tapi” dia yang mengatakan penginnya kerja kantor saya tabrak dengan “justru” karena cuma mikirin kantor administrasi itulah yang membelenggu diri, karena pekerjaan dan pendapatan itu tak hanya di dalam ruang.

Saya memberikan banyak contoh orang sukses yang berangkat dari kampong dan dari keluarga sederhana bahkan miskin. Justru dengan kekurangan, kemiskinan, dari kampung itulah yang menyemangatinya bahwa sebagai orang kampung harus bisa menunjukkan bahwa mereka bisa eksis di Jakarta, bisa survive.

Nah, ketika sang anak itu menanyakan kepada saya apakah punya pekerjaan, dengan ringan kujawab: Justru saya tidak punya pekerjaan tetap itulah maka saya tidak kasih kamu. Dan pemuda itupun akhirnya diam.

Beberapa hari kemudian dia sms saya. Isinya menyampaikan bahwa dia sudah bekerja. Saya bahagia karena dia akhirnya berhasil. Namun, apa yang terjadi? Setelah saya kasih ucapan selamat, dia bilang: Justru karena terlalu yakin itulah Pak, saya mau pindah cari yang lain yang lebih enak.

Apakah Anda percaya? Saya harap tidak. Justru kalau Anda mudah percaya itu menunjukkan Anda tidak memiliki daya kritis. Jadi?



DIPOSTING OLEH Sapto Anggoro PADA 20.02.09 8:06 pm |

One Response to “Mantra Justru”

  1. Ya buat yang tidak mensyukuri kelebihan, yang selalu menyangka kekurangan, jangan kecil hati. Dan setiap pekerjaan itu mulia…dan selalu memberi nilai tambah buat kita kok.

Leave a Reply