Blog Pribadi Sapto Anggoro
Perempatan oooh pertigaan…

Hati-hati seminggu setelah pemilu legislatif (Pileg), jangan keluar rumah. Sebab, diperkirakan hampir seluruh perempatan dan pertigaan akan terjadi kemacetan. Faktor utama penyebab kemacetan adalah para anggota legislative yang baru dilantik atau dinyatakan lolos ke gedung parlemen melakukan syukuran di setiap perempatan!

Syukuran itu sah-sah saja. Karena mungkin mereka merasakan, salah satu dari kesuksesan mereka adalah perempatan. Kenapa syukuran? Ya karena perempatan telah membawa mereka ke parlemen. Ya karena di perempatan bisa tidak bayar pajak, dan lain-lain.

Benarkah terjadi demikian? Saya tidak bisa menjamin. Tulisan ini hanya antisipasi saja, siapa tahu bahwa di kemudian hari setelah ditetapkan sebagai anggota dewan, mereka syukuran, kan paling tidak kita bisa antisipasi. Kalaupun tidak keluar rumah pada saat hari syukuran tiba, ya kita bisa menghindari perempatan. Memang bisa? Ya ndak tahu.

Sodara-sodara. Perempatan atau pertigaan selama ini sering dalam diskusi informal dengan rekan-rekan dari Sumatera Barat dianggap penting. Opportunity dilihat lebih dari satu penjuru sangat jelas. Makanya ada pepatah ringan, bahwa di setiap perempatan atau pertigaan ada warung masakan Padang.

Maaf kalau becandanya kelewatan. Dalam sebuah kesempatan ada pertanyaan plesetan khas Yogya, apa benar vertigo itu inceran orang Padang? “Kok bisa? Soalnya setiap vertigo-an ada rumah makan Padang..hehehehe” (Maaf, tidak bermaksud menyinggung).

OK, ide cerita ini adalah all about perempatan/pertigaan. Dalam kebanyakan peristiwa yang terjadi, wilayah ini sering menjadi wilayah krusial. Setiap orang selalu membutuhkan dan atau tidak pernah bisa menghindari perempatan.

Karena fakta itulah maka seluruh orang/pihak merasa berkepentingan terhadap square area (perempatan) itu. Wilayah paling menarik bagi pengamen, adalah perempatan. Begitu juga pengemis, ini merupakan wilayah favorit. Apalagi yang ada lampu merah-kuning-ijonya (traffic light).

Namun, ternyata dari dulu hingga kini perempatan belum ter-revitalisasi. Belum menjadi tempat yang terpedayakan sehingga bebas dari tempat minta-minta. Bahkan sampai calon anggota dewan yang terhormat – capres sekalian – pola pikirnya tak beda dengan pengamen dan pengemis: minta-minta pada setiap pengendara atau masyarakat agar mau memberikan suaranya pada saat pemilihan tiba. Padahal, mereka ini (capres-caleg) adalah yang berjanji – sekali lagi berjanji – untuk memberdayakan masyarakat secara keseluruhan.

Untung saya belum nyapres dan nyaleg. Siapa saya?



DIPOSTING OLEH Sapto Anggoro PADA 20.01.09 1:06 pm |

Leave a Reply