Blog Pribadi Sapto Anggoro
RBT sumbang 80% bisnis konten seluler

Konten ring back tone (RBT) atau nada tunggu panggilan telepon menyumbang sekitar 80% bisnis konten yang digelar operator seluler di Tanah Air. Benarkah?

Sapto Anggoro, Sekjen Indonesian Mobile & Online Content Provider Association (Imoca), memperkirakan omzet bisnis layanan konten operator seluler tahun ini mencapai Rp3 triliun.

“Sekitar 80% dari omzet tersebut berasal dari layanan ring back tone,” ujarnya kepada Bisnis Indonesia, kemarin (17/12/2008). Jika perkiraan itu benar, omzet bisnis konten nada tunggu panggilan telepon mencapai sekitar Rp2,4 triliun.

Dia menegaskan nilai Rp3 triliun tersebut baru dalam perkiraan dengan asumsi omzet bisnis konten melalui jaringan salah satu operator seluler, yaitu Indosat, tahun ini mencapai Rp700 miliar.

“Jika memasukkan empat operator besar saja seperti Telkomsel, Indosat, XL, dan TelkomFlexi, angka tadi tinggal dikalikan empat,” katanya. Sapto mengakui omzet bisnis konten seluler nasional bisa lebih dari perkiraan tersebut, karena hingga saat ini sudah beroperasi 9 operator dengan lisensi sebanyak 11 layanan, yaitu 8 layanan seluler dan 3 layanan telepon tetap berbasis seluler atau fixed wireless access (FWA).

Yang jelas, katanya, bisnis layanan RBT menjadi salah satu andalan bisnis konten operator. “Dengan tidak di apa-apakan saja, pendapatan dari konten musik RBT tersebut bisa begitu besar, apalagi kalau di-enhancement [lebih diberdayakan].”

Tumbuh 40%

Sejumlah operator mengakui hal tersebut. “Ring back tone menyumbang 90% dari total bisnis layanan konten TelkomFlexi,” ujar Indra Utoyo, Direktur Teknologi Informasi PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) kepada Bisnis. Dia memprediksikan bisnis konten seluler tumbuh 40% tahun depan.

Sapto memperkirakan tahun depan operator akan lebih memberdayakan layanan nada tunggu panggilan tersebut. Dia memperkirakan bisnis konten seluler tahun depan tumbuh 20%. “Porsi RBT masih menjadi yang terbesar.”

Sekjen Imoca itu menjelaskan Rp3 triliun merupakan nilai keseluruhan bisnis layanan konten seluler. Omzet tersebut dibagi dua antara operator dan content provider (CP) atau peneyedia konten dengan porsi yang bervariasi, tetapi umumnya menggunakan pola 50:50.

“Jika pendapatan dibagi dua dengan operator, pendapatan dari penyedia Rp1,5 triliun yang dinikmati 70 CP yang aktif dari jumlah CP sebenarnya,” katanya.

Terkait dengan persoalan layanan SMS (short message service) yang menjurus pada penipuan-seperti layanan SMS berhadiah yang rencananya akan dihentikan oleh pemerintah, Indra berpendapat secara keseluruhan hal itu tidak akan mengganggu pendapatan dari indsutri CP. (14)



DIPOSTING OLEH Sapto Anggoro PADA 30.12.08 4:33 am |

4 Responses to “RBT sumbang 80% bisnis konten seluler”

  1. Salam kenal pak Sapto,

    saya ingin menanyakan apakah tersedia data perkembangan omzet para operator seluler dr bulan ke bulan?

    terima kasih atas bantuannya

  2. Ini urusan dapur dari operator ya, kita tidak bisa dapat datanya yang valid.
    Sekarang untuk bisnis ini terus berjalan, dan perkembangannya justru yang konten sms makin menurun, kalaupun yang jalan cenderung cross program, dan quiz yang juga sering tak nutup pendaptannya dibanding effortnya. Lagi rame RBT bos.

  3. Kedepannya Application Store akan menjadi trend di Indonesia.

    http://gigaom.com/2009/08/27/how-big-is-apple-iphone-app-economy-the-answer-might-surprise-you/

    Bagaimana menurut Pak Sapto?

  4. Bila konten tidak terbatas pada aplikasi, maka trend itu mungkin terjadi. Namun soal dominasi, masih belum yakin. User/pasar banyak tidak peduli dengan aplikasi dan teknologi, yang penting outputnya. Kecuali yang bergerak di bidang IT.

    Rizky Says:
    December 2nd, 2009 at 10:50 pm edit
    Kedepannya Application Store akan menjadi trend di Indonesia.

    http://gigaom.com/2009/08/27/how-big-is-apple-iphone-app-economy-the-answer-might-surprise-you/

    Bagaimana menurut Pak Sapto?

Leave a Reply