Judulnya mungkin naif sekali. Anda tidak usah membaca juga tidak apa-apa. Karena saya yakin sebagian dari Anda sudah punya jawaban. Namun apakah jawaban Anda benar, masih perlu diuji kebenarannya. Jawaban memang terduga, tapi hasilnya belum tentu benar.
Siapapun tahu banyak sekali orang yang mencapreskan diri. Ada 10 orang lah. Dari yang ngetop sampai yang tidak ada yang kenal. Dari yang pinter sampai yang jelas tidak kelihatan pinter tapi punya massa. Rata-rata sih sudah hidup makmur dan berkecukupan.
Nah, tiba-tiba di kepala saya berpikir, sebenarnya apa sih yang ada dalam pikiran mereka untuk menjadi presiden itu: haus jabatan, ingin jadi legenda, ingin jadi penguasa, ingin membangun bangsa, ingin mengeduk kekayaan sebanyak-banyaknya, atau pengin gratis tapi dihormati?
Kebetulan pekan lalu seorang calon presiden datang ke kantor. Mau melakukan silaturahmi. Kita, sebagai bagian dari media dan calon rakyatnya, menerima dengan tangan terbuka. Dengan suasana santai sang capres bersama tim suksesnya memaparkan program-programnya.
Maaf, saya tak perlu menyebtukan capresnya. Karena dia sendiri baru dicalonkan partai, bukan partai besar, tapi tak bisa disebut gurem. Selain itu juga belum mendaftar resmi ke KPU. Sekarang masing jalan-jalan kemana-mana, untuk mencari dukungan. Siapa tahu di tengah jalan mundur teratur.
Biar lebih jelas, kebetulan salah satu capres perlu ditanya-tanya. Berikut tanya jawab singkat itu:
Pak capres, jadi presiden itu capek ndak sih?
Capek dong.
Anda sudah bayangkan akan tidur sangat terbatas, paling 3 jam sehari?
Sudah.
Anda sudah siap akan dihajar kiri kanan kalau salah?
Siap.
Anda siap teman-teman dekat Anda akan meninggalkan kelak?
Hmmmm bisa jadi begitu memang.
Anda bisa jadi akan dikelilingi orang yang punya maksud buruk dan penjilat, sadar?
Memang saya sudah sadar itu. Sejak jadi menteri dulu saya melihat begitu, memang ada yang menjilat. Tapi nanti saya tak peduli.
Anda pasti cari kekuasaan dan kekayaan?
Begini bung. Saya dan keluarga sudah cukup. Saya setiap bulan diundang keluar negeri. Saya jadi advisor dimana-mana, internasional. Cukup. Pasti bukan soal yang Anda curigakan.
Lantas soal apa? Kenapa tak menikmati hidup yang ada saja?
Saya kalau menikmati hidup, sudah dari dulu bisa. Tapi sejak kecil saya susah, dan sampai dapat gelar ini dengan susah payah. Saya pulang membangun bangsa. Saya lihat banyak yang tidak sekolah, miskin, pengangguran, ini karena Negara salah kelola. Untuk itu saya terpanggil.
Maaf, Anda mau jadi capres atau juga siap jadi wakil saja?
Saya maunya presiden. Soalnya kalau nomor dua, tidak bisa bergerak maksimal. Dan kalau jadi yang kedua terlalu vocal nanti kesannya di masyarakat tidak baik.
OK, jadi Anda tetap jadi presiden. Apakah hanya presiden saja yang bisa mengubah Negara ini?
Memang tidak. Semua orang bisa.
Kenapa Anda tidak menjadi orang yang giat melakukan peningkatan SDM, membangun berbagai sector yang penting, tanpa harus serakah sebagai presiden?
Ini adalah kesempatan. Saya semua berpikir seperti Anda. Saya tidak bikin partai. Tapi saya melakukan gerakan. Ternyata diterima. Ya sudah saya sosialisasi ternyata ada yang meminta saya capres. Kenapa tidak.
***
Begitulah sekelumit wawancara dengan seorang capres yang tiba-tiba sok kenal dengan saya. Oh ya saya kemudian dibagikan buku tentang dirinya. Yang saya yakin kalo nanti jadi, pasti sangat-sangat tidak mau mengenal, sibuk bo’. Meski relative menarik, tapi menurut saya terlalu simpli untuk menyampaikan bahwa hanya dengan menjadi presiden kita bekontribusi ke bangsa. Tak usah disebutkan, — capres kok diajari – banyak cara kita untuk membangun Negara. Ndak harus jadi presiden.
Nah, ini adalah salah satu contoh. Bagaimana dengan capres lainnya? Pasti alasan yang muncul di permukaan adalah kira-kira sbb: karena merasa sudah berpengalaman, karena merasa sudah membuat landasan sehingga perlu meneruskan, karena penah jadi jenderal, karena ingin menjadi alternative, karena ingin mewakili anak muda, karena ingin pamer dan atraktif membangun Negara, karena merasa paling pinter, paling punya massa, dan lain-lain, ujungny relative jelas: kekuasaan.
Saya lalu bertanya di hati, hanya kekuasaankah yang membuat Anda menjadi berarti?
DIPOSTING OLEH PADA 24.12.08 6:40 pm |
Leave a Reply