Blog Pribadi Sapto Anggoro
Melihat Kawan bukan Lawan

Tatkala status di facebook-saya mencantumkan tulisan “selamat
datang ‘kawan’ seperjuangan”, tiba-tiba beberapa teman tergoda mengomentari.

Dari yang berpikir positif sampai yang negatif.

Ada yang mengomentari bahwa kini Anda punya banyak teman.
Ada yang mengomentari hati-hati dengan ‘kawan’ barunya om. Ada yang yang lebih
to the point: “kawan-nya” merupakan ancaman serius ndak bos?

Komentar-komentar itu menggelitik juga. Sebenarnya bebas
saja, orang komentar status, ditanggapi bagus tak ditanggapi juga biasa saja
tidak tersinggung. Tapi saya memilih menanggapinya. Demi perkawanan, demi
persahabatan.

Kebetulan kawan yang dimaksud tersebut memang sudah
diketahui khalayak, yakni perusahaan yang bergerak di bidang sejenis. Komentar
yang saya sampaikan di status sebenarnya biasa saja, tulus, tanpa pretensi apapun.
Tapi karena di matanya sudah terbiasa dengan konsep-konsep hidup yang survival,
persaingan, rating tinggi-tinggian, dan lain-lain, sehingga ketulusan komentar
saya dibaca lain.

Sebenarnya, konsep kawan di sini memang sebenarnya. Bahwa
karena teman itu membuat usaha yang sama dengan usaha yang saya geluti, maka
saya dan kawan itu pasti mempelajari, mendalami masalah-masalah yang sama.
Kalau kita ketemu, bicara, pasti saling mengerti dan tahu apa masalah yang
dibicarakan, sehingga klop. Enak diajak bicara. Bisa diajak bekerja sama.

Kalaupun kawan ini kerja di bidang yang sama, saya
melihatnya tidak masalah. Tidak melihat sebagai saingan. Justru ini menunjukkan
bahwa sebagai umat Islam, ternyata dengan berusaha setidaknya sudah menjalankan
sunah Rasul (Muhammad SAW) yang adalah juga pedagang. Lebih dari itu, orang
berusaha dan bekerja itu kalau diniatkan baik itu ibadah.

Namun seperti yang disampaikan rekan yang mengomentari tadi
jelas bahwa dimatanya, konsep orang lain yang melakukan usaha sama itu adalah
lawan, bukan kawan. Bila konsep hidup adalah saling menjatuhkan, survival, yang
terbaik dan terjelek, yang paling unggul dan pecundang, atau terkaya dan
termiskin (bahkan bangkrut), maka melihat setiap orang yang datang di dunia
adalah saingan, rival, yang perlu untuk disingkirkan.

Jika tujuan dan konsep utama berusaha itu adalah
berlomba-lomba menjadi yang paling kaya, rating tertinggi, masuk ranking Forbes,
menguasai pasar (market share), dan lain-lain, maka yang terjadi adalah saling
menjatuhkan, saling sikut-sikutan, saling mengalahkan, mencuri ide orang,
membunuh atau mentertawakan orang lain yang bangkrut atau jatuh.

Jangan salah, kehadiran rekan dengan usaha sejenis, pasti
akan menghasilkan sesuatu yang besar, minimal sama-sama mendidik pasar,
sehingga yang sebelumnya orang tidak membeli barang X, karena pengusaha barang
X lebih dari satu, maka pasarnya akan berkembang lebih baik. Sehingga sama-sama
menghasilkan karya yang produktif dan sama-sama bisa menambah karyawan, berarti
mengurangi angka pengangguran dan seterusnya.

Jadi, lihatlah kawan dengan mata yang sebenarnya, jangan dicurigai
selalu.



DIPOSTING OLEH Sapto Anggoro PADA 18.12.08 12:01 am |

2 Responses to “Melihat Kawan bukan Lawan”

  1. Ealah..ditulis disini toh.
    OK wak haji nek ngono, aku lupa kalau ngomong sama wak haji ya

  2. Namanya ide kan dari mana saja. Begitu bikin status trus dicurigai, baru keluar ide…trus isone ngeblog ya ditulis saja.

Leave a Reply