Sedikitnya ada 42-an nama artis dan selebritis masuk dalam bursa calon legislatif (Caleg) nasional. Mereka tersebar di banyak partai. Mulai dari Golkar, PDIP, Partai Demokrat, PAN, PDS hingga Hanura. Mau sidang apa shooting?
Bila saja nantinya 42 orang di atas jadi semua terpilih menjadi anggota DPR RI yang terhormat, maka dengan jumlah anggota DPR sebanyak 550 orang maka sudah hampir 7,5%. Jumlah yang cukup lumayan.
Dari total jumlah artis/seleb itu, sekitar 50% diantaranya adalah dari PAN. Tak heran bila kemudian banyak orang menilai bahwa partai yang sebelumnya dikenal amanah ketika dipimpin Amien Rais ini berubah singkatan jadi partai artis nasional (PAN).
Saat ini jumlah anggota DPR dari PAN hasil pemilu 2004 lalu adalah sebanyak 53 orang. Bila PAN mampu mempertahankan prestasinya, maka 1/3 lebih anggota fraksi PAN di DPR adalah artis/selebritis.
Nama-nama artis top dari caleg PAN antara lain Eko Patrio, Mandra, Marini Zumarnis, Ikang Fawzi, Derry Drajat, Adrian Maulana, Tito Soemarsono, Maylaffayza, Krisna Mukti, Henidar Amroe, dan lain-lain diharapkan bisa menjadi jaminan ke Senayan (Gedung DPR).
Yang menjadi pertanyaan sekarang, siapkah mereka menjadi anggota DPR yang terhormat yang harus melaknsanakan amanah rakyat yang diwakilinya? Tahukah mereka apa yang harus dilakukan menjadi anggota dewan? Siapkah mereka menjadi anggota dewan? Mana yang akan didahulukan kepentingan bangsa/rakyat ataukah kepentingan pribadi? Masih banyak lagi pertanyaan yang bisa diamanatkan ke mereka.
Dalam dunia politik, artis/selebritis jadi politisi adalah biasa. Di Amerika Serikat bahkan artis Iron Horse, Ronald Reagen bisa menjadi presiden AS dua kali berturut-turut. Ada Gubernur California Arnold Schwarzenegger, Waikota Los Angeles Clint Eastwood. Di Italia pernah ada artis topples Illona Staler menjadi anggota partai. Juga pecatur Gary Kasparov yang menjadi oposan di Rusia. Mereka terkenal, pendapatnya didengar, kiprahnya jelas.
Di Indonesia bukan kali pertama artis menjadi anggota legislatif. Saat ini saja sudah ada Angelina Sondakh, Nurul Komar, Adjie Masaid, Dede Yusuf (sebelum jadi wagub Jabar), juga pernah Edy Sud, Rano Karno, dan lain-lain. Tapi, entah mengapa, komentar mereka tentang kebangsaan, kerakyatan, tidak muncul ke permukaan. Entah wartawannya yang tidak meminta pendapat mereka atau memang komentar mereka dianggap kurang berisi. Yang pasti, stigma bahwa mereka tetap saja artis melekat, sehingga komentar mereka tetap saja dibutuhkan bila dikaitkan dengan dunia seleb infotainment: kawin, cerai, selingkuh, dan sekitarnya.
Barangkali tidak ada satupun pihak yang mempermasalahkan keberadaan caleg dari artis. Namun artis yang berbobot, yang memiliki nilai, bukan yang sekadar menjadi vote getter (pendulang suara) yang dibutuhkan rakyat.
Dunia artis dan dunia dewan adalah berbeda. Artis dituntut disiplin berlatih atas talenta yang dimilikinya agar tetap sukses di dunianya (panggung, layer kaca, layer lebar). Mereka tidak harus peduli dengan orang lain. Karena, mereka adalah pusat perhatian, orang yang boleh egois, haus pujian, haus sanjungan, biasa ditepuktangani (dikeploki), yasng pasti panggung kalau perlu milik mereka.
Dunia dewan beda. Anggota legislatif dituntut selalu belajar secara akademis, teoritis, memperhatikan rakyat, mendengarkan keluhan rakyat, peduli orang lain, dan memahami segala masalah ketatanegaraan. Yang pasti, anggota dewan harus siap mengikuti sidang-sidang yang spartan, sampai dini hari yang menejemukan, bisa bikin bete.
Bisakah mereka para artis dan selebritis itu mengubah hidupnya menjadi 180 derajat, itulah pertanyaannya. Soal intelektual, barangkali artis kita saat ini sebagian besar secara akademis tidak diragukan lagi. Sekolahnya bagus-bagus, cukup berisi. Namun kalau tidak dibiasakan menjadi anggota dewan, bukan tak mungkin akan mengulang keberadaan artis yang sebelum-sebelumnya, kurang suara. Padahal, siapapun tahu, DPR itu dalam bahasa Perancis disebut parlemen, “parle†berarti berpendapat/bersuara. Kalau menjadi anggota parelemen tak memiliki kosa kata yang pas untuk berpendapat atasnama rakyat, percuma saja.
Banyak pendapat sinis bahwa DPR mendatang akan jadi rumah sinetron baru. Wartawan politik yang di sana akan kalah pamor dengan wartawan infotainment. Bisa jadi benar. Sejuta pertanyaan bisa dialamatkan ke mereka, apa motivasinya. Jangan-jangan mereka hanya ingin mendapat gaji pasti sekitar Rp 25 juta/bulan sementara mereka tetap nge-job kesana kemari.
Sudah rahasia umum banyak anggota DPR yang makan gaji buta. Terima gaji bulanan tapi tidak pernah ikut siding. Atau kalupun tanda tangan, hanya absen sebentar terus kabur. Bagi artis kabrunya kemungkinan jelas, antara shooting atau manggung.
Nah, ada kekhawatiran baru.Apabila di suatu hari, ada sidang DPR yang penting bersamaan jadwalnya dengan shooting iklan, kira-kira mana yang didahulukan sang artis?
Ingat, setiap pilihan menentukan masa depan bangsa dan Anda.
Siapkah Anda dipimpin oleh artis?
DIPOSTING OLEH PADA 14.12.08 9:51 pm |
December 15th, 2008 at 4:15 pm
Hehehe..gitu aja kok ditanyakan. Ya pilih shooting lah. Kan biasa DPR membolos, toh tetep dapat ongkos bulanan. Ya kan?
December 17th, 2008 at 11:22 pm
Main film dong.
March 25th, 2009 at 10:41 am
Great post…..bookmarking your website…
Thanks
*blogwalking nich….mampir ke tempatq yach..*
March 25th, 2009 at 10:44 am
bookmark your blog…thanks 4 share
*blogwalking nich….mampir ke tempatq yach..*