Blog Pribadi Sapto Anggoro
Laskar Pelangi: Membantu menasihati anakku

Terpengaruh oleh informasi teman, sepulang dari mudik saya bersama anak-anak memutuskan untuk segera menonton film Laskar Pelangi. Film garapan Riri Riza dan diproduseri oleh Mira Lesmana dan Haidar Bagir, begitu memesona saya.

Diangkat dari novel karya Andrea Hirata yang tiga bulan sebelumnya sudah kubaca dan juga dihabiskan oleh istriku, — entah mengapa kedua anakku tidak membacanya, mungkin terlalu tebal — keinginan untuk menonton memang tidak terlalu besar.

Masalanya, sering novel yang difilmkan gagal dalam komunikasi multimedia. Menurutku mengecewakan pembaca.Banyak sudah yang demikian. Jangan jauh-jauh, Da Vinci Code-nya Dan Brown atau Ayat-ayat Cinta dari Habiburahman. Di Da Vinci, banyak yang over expectasi terhadap Robert Langdon dan Sophie.

Pada Ayat-ayat Cinta, wadoh rasanya keutuhan sudah dirobek-robek surtradara, tapi apadaya laris.Namun, pada Laskar pelangi, meski ada tambahan Tora Sudiro yang ndak ada di buku, masih oke-oke saja. Sebuah bangunan film terjaga dan tak membelokkan alur yang ada di Laskar Pelangi — yang sudah menjadi bagian dari tetralogi.Terlepas dari itu, Laskar Pelangi memberikan informasi banyak hal.

Film ini, barangkali membuktikan bahwa budaya lokal bila dikemas dengan baik, bisa sangat indah, menarik, berisi. Riri berhasil memberikan sentuhan yang natural ke relung pemirsa dengan seribusatu “fatwa” yang lebih tegas dan kuat ketimbang di Novel.Bila di Novel Laskar Pelangi — yang kukagumi penuh belokan ke pelajaran dan teori sahih — dipotong dengan sederhana oleh sutradara menjadi energi yang menguatkan gambar, pesan, dan wacana.

Bagaimana Riri menunjukkan betapa ngerinya Lintang menunggu “stopan” buaya setiap kali berangkat sekolah sampai nyaris gagal ikut cerdas cermat yang menomental sehingga memenangkan SD Muhamadiyah Belitong atas SD Timah.

Pesan bahwa yang miskin dan sederhana bisa mengalahkan yang kaya, dan juga kebahagiaan adalah memberi, begitu menggetarkan. Cara kontradiktif dengan mengadu hitungan “lidi” vs kalkulator telah membantu seluruh orang yang menonton untuk bicara pada sang anak tentang nilai-nilai yang positif dan kuat.

Cukup dengan bicara, “Lihat tuh…bisa kan?” maka anak akan mengerti maksud orang tua, bahwa Ikal, Lintang, Mahar, dan kawan-kawan telah menjungkirbalikkan establishme — kemapanan — tidak memiliki kekuatan apapun dibanding sebuah semangat, kreativitas, dan Tuhan.Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, dan Naga Bonar adalah film laris nasional dua tahun terakhir. Jutaan orang menyempatkan diri untuk menontonnya.

Bila Nagabona lebih kuat hiburannya, Ayat-ayat Cinta berdakwah, Laskar Pelangi lebih universal, mengena siapapun. Mungkin ungkapan ini berlebihan, tapi biar. Yang pasti banyak nilai di situ, yang membuat harga tiket menjadi sangat-amat murah dibanding hasilnya: Laskar Pelangi telah membantuku bicara pada anak-anak tentang banyak hal.



DIPOSTING OLEH Sapto Anggoro PADA 26.10.08 10:04 pm |

One Response to “Laskar Pelangi: Membantu menasihati anakku”

  1. FYI: Telah terbit Novel Biografi”menapak jejak Amien rais” yang ditulis oleh putri beliau sendiri Hanum Rais.
    Pemesanan buku lewat http://www.hanumrais.com akan dapat diskon harga.Semoga berkenan menyebarkan informasi ini ke teman teman bloger lainya….terimakasih.

    HR Management
    Hp.08175495994/081282006481
    fb/email:hanumraiss@gmail.com

    “Transfer nilai-nilai kehidupan, spiritualitas dan kepemimpinan dari seorang Amien Rais kepada puterinya, Hanum Salsabiela Rais, dilukiskan pada buku ini secara lugas, dan amat menarik. Dengan membaca buku ini, kita akan lebih mengenal sisi lain dari ketokohan Amien Rais yang dapat dipetik oleh generasi muda Indonesia lainnya”

    Prof Dr. -Ing. B J Habibie,
    Mantan Presiden Republik Indonesia

    “Buku ini highly recommended untuk memahami bagaimana komunikasi politik berawal dari komunikasi keluarga batih / nuclear family”

    Effendy Gazali. PhD, MPS, ID,
    Prog. Master Komunikasi Politik UI/Alumni Cornell Univ. New York

Leave a Reply