<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Sapto Anggoro</title>
	<atom:link href="http://www.saptoanggoro.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.saptoanggoro.com</link>
	<description>Blog Pribadi Sapto Anggoro</description>
	<pubDate>Thu, 13 May 2010 11:40:37 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Product Pro Pasar vs Product Idealis</title>
		<link>http://www.saptoanggoro.com/?p=278</link>
		<comments>http://www.saptoanggoro.com/?p=278#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 10:44:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Provoke]]></category>

		<category><![CDATA[etc]]></category>

		<category><![CDATA[CP]]></category>

		<category><![CDATA[Google]]></category>

		<category><![CDATA[Idealis]]></category>

		<category><![CDATA[Komik]]></category>

		<category><![CDATA[Operator]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.saptoanggoro.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah seminar di Bandung, seorang pengembang komik minta masukan dari para operator yang kebetulan menjadi narasumbr di depan. Para wakil operator dengan ringan dan tangkas langsung menyatakan, bila produk Anda bagus, maka akan diterima.
Produk bagus? Darimana tahu? &#8220;Gampang, dalam kasus komik atau buku, kalau saya lihat di Gramedia laris, maka kita akan mau bekerjasama,&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sebuah seminar di Bandung, seorang pengembang komik minta masukan dari para operator yang kebetulan menjadi narasumbr di depan. Para wakil operator dengan ringan dan tangkas langsung menyatakan, bila produk Anda bagus, maka akan diterima.<span id="more-278"></span></p>
<p>Produk bagus? Darimana tahu? &#8220;Gampang, dalam kasus komik atau buku, kalau saya lihat di Gramedia laris, maka kita akan mau bekerjasama,&#8221; kata narasumber dari Operator Seluler. Setali tiga uang, pembicara dari operator lain pun mengamini.</p>
<p>Menyadari situasi tak menguntungkan bagi penanya, maka saya pun mencoba meramaikan suasana dengan jawaban yang agak berbeda. Bahwa dalam membuat produk, apapun, kita dihadapkan pada dua pilihan, sesuai dengan ide kita atau mengikuti (pro) pasar?</p>
<p>Kalau dilihat dari prosesnya, ide yang pro pasar dan idealis pasti berbeda. Idealis biasanya datang dari cita-cita produsen/pemilik mengenai barang yang belum ada, atau barang yang sudah ada tapi ada sesuatu yang khas dan tidak mau tunduk dengan permintaan orang. Sedangkan yang pro pasar, biasanya cenderung barng yang sudah ada dibuat dengan beda kemasan atau tambahan sedikit gimmick. Propasar tidak peduli sebagai follower, yang penting &#8212; dalam dugaannya &#8212; laris. Kalangan yang berpikir praktis memilih kecenderungan kedua ini.</p>
<p>Nah, dalam situasi itu saya ketengahkan mengenai contoh Google. Sebagai mesin pencari, Google yang lahir tahun 1998 adlah pendatang baru pada waktu itu sementara Yahoo search engine sudah bercokol kuat dan mencengkeram.</p>
<p>Namun, Google sedikit demi sedikit, aplikasinya yang sangat ringan dengan range pencarian yang banyak (high meta crawl), tiba-tiba menohok. Sedikit demi sedikit pamornya naik, dan pada 2002 sudah mengalahkan Yahoo dalam soal mesin pencarian.</p>
<p>Meski sudah laris, tapi Google belum mendapatkan penghasilan yang memadahi. Sementara Yahoo sudah amat sangat kaya dan valuasi perusahaannya bernilai jutaan dolar AS. Banner di kiri kanan telah membuat Yahoo menjadi raksasa.</p>
<p>Google rupayanya tidak mudah tergiur dengan pasar iklan banner. Google, melalui dua orang cerdas pembesutnya Larry Page dan Sergei Brin bertahan anti banner adv. Dia kemudian ketemu dengan Erich Schmidt yang kemudian jadi CEO Google. Sang CEO akhirnya mengambil jalan tengah, agar halaman Google saat pencarian &#8212; level 2 &#8212; dibagi menjadi dua bagian. Yang 2/3 bagian untuk hasil pencarian, dan 1/3 bagian untuk iklan kata-kata (AdWords). Iklan itu berkorelasi dengan kata kunci yang dicari orang. Misalnya sedang mencari sepatu maka akan muncul produk/toko sepatu. </p>
<p>Dengan mesin pencarian seperti itu, dan tidak tunduk kepada pasar untuk harus mau menerima pemasangan banner, Google telah mempertahankan idealismenya. Dengan mengusung &#8220;don&#8217;t be evil&#8221; maka Google tak henda menyakiti pembaca/pengaksesnya dengan &#8220;gangguang&#8221; banner seperti halnya media-media lainnya. Alhasil, iklan teks yang tersebut powerful dan menjadi pisau tajam penghasil dolar yang sangat dahsyat.</p>
<p>Tentu Google salah satunya. Ada banyakl contoh orang berangkat dari produk yang idealis. Karena idealismenya sehingga khas. Kekhususan juga menjadi segmented dan bila diterima khalayak, maka akan menjadi mainstream, trendsetter. Biasanya akan mulai banyak penirunya. </p>
<p>Jadi, tidak perlu takut dengan idealisme produk. Kalau produk Anda bagus, punya khas, maka posisi tawar produk Anda akan tinggi. Mungkin bukan Anda yang melamar tapi para operator, para aggregator bisnis akan datang ke Anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.saptoanggoro.com/?feed=rss2&amp;p=278</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Andai Prita Jadi Audit Services RS Omni</title>
		<link>http://www.saptoanggoro.com/?p=256</link>
		<comments>http://www.saptoanggoro.com/?p=256#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 13:05:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jendela]]></category>

		<category><![CDATA[layanan]]></category>

		<category><![CDATA[omni]]></category>

		<category><![CDATA[prita]]></category>

		<category><![CDATA[rumah sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.saptoanggoro.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Akhir tahun kita banyak mendapat berita tentang perempuan gigih Prita Mulyasari. Perempuan yang gara-gara mendapatkan pelayanan yang tidak semestinya, menulis surat di media online yang kemudian tersebar kemana-mana, berupa mailing list, blog, dan lain-lain yang kian menyebar menjadi viral.
Seperti diketahui kemudian, mailing list tersebut juga mampir ke manajemen Rumah Sakit Omni Internasional yang menjadi objek [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhir tahun kita banyak mendapat berita tentang perempuan gigih Prita Mulyasari. Perempuan yang gara-gara mendapatkan pelayanan yang tidak semestinya, menulis surat di media online yang kemudian tersebar kemana-mana, berupa mailing list, blog, dan lain-lain yang kian menyebar menjadi viral.<span id="more-256"></span></p>
<p>Seperti diketahui kemudian, mailing list tersebut juga mampir ke manajemen Rumah Sakit Omni Internasional yang menjadi objek pembicaraan. Sebagai lembaga yang identik sosial â€“ meski faktanya berbisnis murni â€“ surat itu tentu saja membuat rumah sakit gerah.</p>
<p>Alih-alih akan mendapat perhatian yang proporsional, Prita justru diadukan oleh manajemen RS yang berlabel internasional tersebut. Dia harus mendekam di tahanan. Prita diadukan dengan dua cara penyelesaian hukum: pidana dan perdata.</p>
<p>Pidana Prita masih dalam proses, tapi perdata sudah da hasilnya yakni dia harus membayar sebesar Rp 204 juta. Prita kalah di pengadilan. Prita kalah melawan Omni. Prita terhajar pengacara para penuntut yang pasti dibayar mahal.</p>
<p>Tiba-tiba, seperti lagu You are never walk alone buat Prita. Rakyat tiba-tiba memberikan gerakan tersendiri. Sekelompok komunitas membuat gerakan yang unik: mengumpulkan uang untuk membantu meringankan beban Prita membayar dendan sesuai keputusan Pengadilan Negeri Tangerang.</p>
<p>Uniknya, cara membantu komunitas tersebut bukan dengan uang cash dalam bentuk yang semestinya, tapi dalam bentuk recehan (koin). Ini dilakukan agar sang penerima malu hati menerima uang recehan yang begitu berat bila dikumpulkan. Bahkan sampai terkumpul sekitar 6 truk, sekitar Rp 800 juta lebih.</p>
<p>Tak lama kemudian, pada 29 Desember 2009, di hukum Pidana ternyata Prita dinyatakan tak bersalah dan bebas murni. Skor pidana vs perdata, atawa Prita vs Omni adalah 1-1. Itu di atas kertas. Namun di masyarakat, diakui atau tidak skornya adalah Prita menang telak 2-0.</p>
<p>Omni adalah sebuah rumah sakit. Walau mungkin ini bisnis, tapi bagaimanapun soal pelayanan orang sakit itu adalah soal kemanusiaan, soal sosial. Ketika Omni merasa yakin dan digdaya menggunakan kekuasaan hukum, maka kemenangan hukum yang didapat. Tapi kekalahan social dan kemanusiaan mereka habis. Sebab, dengan kasus Prita, maka orang akan ragu untuk berobat ke Omni. Sebab akan dibayangi ketakutan, jangan-jangan kalau nanti protes atau mempertanyakan ke dokternya akan dituntut? Jangan-jangan kalau kita menulis di internet mengeluhkan penyakit yang tidak kunjung sembuh, malah digugat?</p>
<p>Perasaan ini suka-tidak â€“suka, akan selalu mampir di benak orang. Kalaupun mereka ke sana, bukan tak mungkin karena sudah langganan perusahaannya karena partnership, atau karena rujukan dari klinik atau rumah sakit di bawahnya, atau karena dokter kebetulan pada hari tertentu praktek di situ.<br />
Perlu biaya yang sangat besar bagi Omni untuk mengkampanyekan perawatan yang nyaman, melindungi, the-best buat masyarakat. Namun, kekalahan di masyarakat itu, bisa saja berubah drastis bila Omni mengaku kelalaliannya, kekurangannya, kesalahannya, kekhilafannya secara publik. Tidak perlu menaikkan ke banding pidana misalnya.</p>
<p>Masalah Prita vs Omni sejatinya adalah masalah pelayanan. Dan itu merupakan masalah inti di usaha rumah sakit. Orang kita pergi ke Singapore, Malaysia, dan lain-lain bukan sekadar kualitas dokter, tapi adalah layanan yang benar-benar menyenangkan bagi pasien, walau harus membayar mahal mereka rela.</p>
<p>Karena masalah utamanya adalah pelayanan, maka sikap kritis Prita adalah karena dia care dengan pelayanan. Dan karena Prita sudah menjadi symbol yang begitu luas (kritis pada pelayanan, pahlawan orang yang terpinggirkan, perempuan peduli, dan lain-lain), maka akan mudah sebenarnya bagi Omni untuk mengembalikan reputasi dan servisnya ke pamor yang positif. Caranya adalah dengan mengangkat Prita sebagai semacam internal audit atau kontroller pelayanan excellence di Omni.</p>
<p>Dengan demikian, maka hubungan Omni dan Prita sebagai symbol pasien akan bagus, di matas masyarakat akan tercermin bahwa Omni ternyata peduli, serta symbol Prita sebagai bagian dari layanan standard akan mendapat tempat di hati masyarakat. Saya yakin kalau Omni mengajak Prita untuk bekerjasama menyusun standar layanan yang bagus untuk masyarakat, akan sangat elok dan positif. Masyarakat yang notabene calon pasien akan hilang keraguannya bila berurusan dengan Omni.</p>
<p>Namun, usulan ini kan dari luar. Hanya dengan cara membuang dendam, membuang arogan dan segala symbol kekuasaan yang bisa mengantarkan orang (manajemen)  untuk menjadi rendah hati. Semua itu tergantung Omni dan juga Prita. Momennya belum terlambat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.saptoanggoro.com/?feed=rss2&amp;p=256</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lawan Penjegal Gerakan Antikorupsi</title>
		<link>http://www.saptoanggoro.com/?p=254</link>
		<comments>http://www.saptoanggoro.com/?p=254#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 11:13:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Provoke]]></category>

		<category><![CDATA[Anggoro]]></category>

		<category><![CDATA[Bibit]]></category>

		<category><![CDATA[Chandra]]></category>

		<category><![CDATA[Erry]]></category>

		<category><![CDATA[Jaksa]]></category>

		<category><![CDATA[Kejaksaan]]></category>

		<category><![CDATA[KPK]]></category>

		<category><![CDATA[polisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.saptoanggoro.com/?p=254</guid>
		<description><![CDATA[Maaf, sebenarnya blog pribadi ini inginnya memuat ide-ide atau sekelebat &#8216;liputan&#8217; yang menarik yang mungkin berguna buat saya dan pembaca. Saya ingin menghindarkan berita politik. Tapi sekitar pukul 16.00 WIB, muncul kabar yang mengagetkan: bekas pimpinan KPK Bibit Samad Riyanto &#38; Chandra Hamzah.
Tidak biasanya jiwa bergetar, terasa mesti marah. Sementara saya di kantor, tidak bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf, sebenarnya blog pribadi ini inginnya memuat ide-ide atau sekelebat &#8216;liputan&#8217; yang menarik yang mungkin berguna buat saya dan pembaca. Saya ingin menghindarkan berita politik. Tapi sekitar pukul 16.00 WIB, muncul kabar yang mengagetkan: bekas pimpinan KPK Bibit Samad Riyanto &amp; Chandra Hamzah.<span id="more-254"></span></p>
<p>Tidak biasanya jiwa bergetar, terasa mesti marah. Sementara saya di kantor, tidak bisa teriak. Marah karena kalau kita ikuti berita dan fakta-fakta yang terungkap, tampak jelas bahwa ada upaya untuk menghancurkan KPK. Lembaga antikorupsi yang benar-benar menakutkan para koruptor itu dihajar rame-rame, oleh orang-orang yang tidak kompeten di kepolisian dan kejaksaan.</p>
<p>Kasus korupsi yang diusut oleh KPK, malah dianggap salah prosedur oleh polisi. Malah dianggap salah menggunakan wewnang. Polisi dan kejaksaan takut bahwa mereka akan hilang jabatan, ketahuan bobroknya setelah diungkap banyak media mengenai rekaman percakapan para koruptor dengan pejabat kejaksaan dan kepolisian. Polisi dan jaksa menemui koruptor di Singapura, main telpon-telponan di luar ruang pemeriksaan apakah wajar?</p>
<p>Apa yang dilakukan KPK &#8212; dalam hal ini Bibit dan Chandra &#8212; adalah sama dengan yang dilakukan KPK pada masa kepemimpinan pertama, saat dikomandani oleh Taufiqurahman Ruki dan Erry Riyana Hardjapamekas. Maka, tidak ada yang salah mestinya dengan apa yang dilakukan oleh Bibit dan Chandra. Maka, saya mendukung gerakan Erry Riyana yang mau maju mempelopori untuk menghadapi tindakan kriminalisasi KPK.</p>
<p>Bukan soal Chandra dan Bibit, tapi lembaga KPK harus diselamatkan, dipertahankan, dengan kinerja yang harus extraordinary.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.saptoanggoro.com/?feed=rss2&amp;p=254</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pak Imam Suprayogo Mendorong ICT</title>
		<link>http://www.saptoanggoro.com/?p=249</link>
		<comments>http://www.saptoanggoro.com/?p=249#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 09:35:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jendela]]></category>

		<category><![CDATA[ICT]]></category>

		<category><![CDATA[Imam]]></category>

		<category><![CDATA[Malang]]></category>

		<category><![CDATA[UIN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.saptoanggoro.com/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[Untuk bisa menjadi pelopor dalam hal ICT sering orang sibuk dengan jabatan, gelar, kepakaran, dan lain-lain. Sepertinya orang yang tidak mengerti coding atau configuring tidak layak masuk dalam bagian pejuang ICT. Namun Imam Suprayogo punya cara tersendiri dalam menggerakkan ICT, terutama dalam utilisasi untuk meningkatkan pengguna (usage).
Tokoh kita kali ini adalah seorang profesor, doktor tentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk bisa menjadi pelopor dalam hal ICT sering orang sibuk dengan jabatan, gelar, kepakaran, dan lain-lain. Sepertinya orang yang tidak mengerti coding atau configuring tidak layak masuk dalam bagian pejuang ICT. Namun <a title="Imam" href="http://www.imamsuprayogo.com/" target="_blank">Imam Suprayogo </a>punya cara tersendiri dalam menggerakkan ICT, terutama dalam utilisasi untuk meningkatkan pengguna (usage).<span id="more-249"></span></p>
<p>Tokoh kita kali ini adalah seorang profesor, doktor tentu saja. Jabatannya rektor di perguruan tinggi agama, yang berada di lingkungan Departemen Agama, yakni Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang (biasa disebut UIN Malang).</p>
<p>Ketika pertama kali bertemu dalam sebuah kesempatan di kampus UIN Malang pertengahan Oktober 2009, saya sudah menangkap sosok sederhana yang hangat dan rendah hati (humble). Tanpa protokoler, semua orang disapa, seolah tiada jarak, dan saya &#8212; bersama rekan lain &#8212; pun dijamu dengan makanan sederhana. Alamak, dengan enteng &#8220;saya suka sekali terong balado, jadi hampir selalu ada,&#8221; tukasnya sambil memulai makan dengan tangan telanjang.</p>
<p>Apa hebatnya orang ini? Sebelum ditulis di sini sebenarnya dia sangat-sangat hebat. Pak Imam ternyata sudah mengantongi rekor MURI karena menulis di blog pribadi, blog kampus, dan facebook, selama setahun sejak Juli 2008-2009 tanpa jeda. Setiap hari, tanpa jeda. Tidak ada hari yang kosong yang dia tidak menulis.</p>
<p>Apa yang disampaikan? Tidak perlu dipermasalahkan. Seorang profesor - doktor pasti tidak akan sembarangan menyampaikan materi kepada khalayak. Bukan rekor MURI yang menjadi pangkal saya menulis beliau dengan cara terhormat. Namun, karena setiap hari menulis, maka jarak dia untuk memberikan kuliah kepada mahasiswanya, tidak ada lagi, dan berlangsung terus menerus, setiap hari, dimanapun dan kapanpun bisa diakses.</p>
<p>Dengan seringnya diakses, maka otomatis tingkat utilisasi bandwidth internet kampus menjadi tinggi, peningkatan usage pun terjadi. Tidak harus dengan cara pronografi, game, sensasi untuk meningkatkan jumlah dan kualitas pengguna.<!--more--></p>
<p>Tidak harus dari orang dengan latar belakang ICT untuk menjadi penggerak ICT itu sendiri. Siapapun bisa. Dan Pak Imam punya cara sendiri, yang bisa membuat orang di ICT dan yang mengaku wartawan/penulis pun malu hati. Sampai saat ini, masih setiap hari menulis. Awalnya, gara-gara setelah shalat subuh dia merasa ada waktu kosong yang harus diisi sesuatu yang bermanfaat, maka menulis adalah pilihannya.</p>
<p>&#8220;Saya juga akan menghargai dosen-dosen saya yang bisa menulis menyaingi saya,&#8221; kata Imam. Secara terbuka Imam akan menantang dosennya agar menulis. Dia menyediakan hadiah bagi yang menulisnya paling banyak, tidak tanggung-tanggung sebuah mobil sekelas avanza. Terbanyak kedua akan dapat sepeda motor. &#8220;Terbanyak ketiga akan saya kasih sepeda pancal (onthel),&#8221; tukasnya.</p>
<p>Saat ini, dengan apa yang dilombakan itu, pengguna dari kampus menjadi tinggi. Tingkat kunjungan dan traffic log meningkat. Kebutuhan bandwidth bertambah. Tawaran sumbangan dan kerjasama pun meningkat. Sadar demikian, maka perhatian Imam pada ICT pun luar biasa. &#8220;Saya tidak mau kalah dengan universitas umum,&#8221; katanya.</p>
<p>Jadi, siapapun bisa berbuat untuk bidang apapun, tanpa harus menjadi pakar di bidang itu, tentu dengan cara-cara yang unik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.saptoanggoro.com/?feed=rss2&amp;p=249</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rendra, Mbah Surip, Presiden dan Media</title>
		<link>http://www.saptoanggoro.com/?p=247</link>
		<comments>http://www.saptoanggoro.com/?p=247#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 06:42:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Liputan Media]]></category>

		<category><![CDATA[Bengkel Teater]]></category>

		<category><![CDATA[Mbah Surip]]></category>

		<category><![CDATA[Rendra]]></category>

		<category><![CDATA[SBY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.saptoanggoro.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Wah lama nggak nulis nih. Tiba-tiba kok pengin menulis juga, setelah dua pekan lalu kita kehilangan budayawan besar, WS Rendra. Yang menjadi menggelitik ingin menulis adalah ketika melihat reaksi dari teman-teman di milis tempat aku berada di dalamnya. Kok Presiden SBY tak memberi ucapan belasungkawa kepada Rendra, justru ke Mbah Surip?
Yang dipersoalkan teman-teman adalah apresiasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wah lama nggak nulis nih. Tiba-tiba kok pengin menulis juga, setelah dua pekan lalu kita kehilangan budayawan besar, WS Rendra. Yang menjadi menggelitik ingin menulis adalah ketika melihat reaksi dari teman-teman di milis tempat aku berada di dalamnya. Kok Presiden SBY tak memberi ucapan belasungkawa kepada Rendra, justru ke Mbah Surip?<span id="more-247"></span></p>
<p>Yang dipersoalkan teman-teman adalah apresiasi presiden. Mereka berpendapat bahwa presiden sudah mengapresiasi Mbah Surip yang meninggal pada 4 Agustus, dimakamkan di lokasi Bengke Teater milik Rendra. Lalu dua hari kemudian, Kamis 6 Agustus gilirian Rendra meninggal.</p>
<p>Teman-teman di milis makin uring-uringan ketika di televisi banyak yang salah-salah menyampaikan fakta-fakta tentang Rendra, yang anaknya &#8216;cuma&#8217; 5 (mestinya 11), atau hanya menyebut istri pertamanya Sunarti Suwandhi tanpa menyebut Sitoresmi dan salah menyebut Clara Sinta anak siapa karena ada yang keseleo anaknya Ken Zuraida dan lain-lain kesalahan oleh pembaca acara tv masa kini.</p>
<p>Saya sempat protes juga kok Presiden melihat kebesaran Mbah Surip tapi tidak pada Rendra. Bahkan Emhan Ainun Nadjib yang teman akrab Rendra juga marah sama sikap televisi yang seolah terlalu membesarkan Mbah Surip ketimbang Rendra.</p>
<p>Sebenarnya siapa yang picik, siapa yang egois? Rendra menurut saya, besar. Kebesarannya jauh lebih dari sekadar di-ignore oleh Presiden. Karyanya, sumbangsihnya di dunia sastra Indonesia, di dunia teater, dan membangun SDM tater yang top adalah tak tergantikan siapapun. Adi Kurdi, Amak Baljun, Danarto, dan sederet nama-nama besar, pasti kagum sama Rendra. Belum lagi prasasti piagam dan award yang dikantongi. Bahkan Maret lalu pun UGM memberikan gelar doktor HC pada Rendra.</p>
<p>Mbah Surip? Tentu tak sebanding dengan Rendra. Namun mestinya bisa dimaknai lain ketika media dianggap terlalu membesarkan atau presiden terasa salah kalau memberikan ucapan belasungkawa padanya bila ke Rendra tidak.</p>
<p>Mbah Surip, suka tidak suka, sedang in atau naik daun. Dia tiba-tiba ngetop, sedang di atas. Pengasilan RBT-nya yang kemudian sontak didownload ratusan ribu orang dengan asumsi valuasi Rp4 miliar lebih, tentu sedang jadi buah bibir siapapun.</p>
<p>Itu tidak terkecuali SBY yang mengaku punya cucu dan suka menyanyikan lagunya Mbah Surip. Mungkin pribadi sekali, karena dia pun punya rasa pribadi dan sehingga dikabarkan menyumbang belasan juta kepada si Mbah. Tapi saya juga punya kesimpulan lain, bahwa dalam hal ini benar-benar SBY memang presiden Pop. Dia menjadi bagian dari pop culture yang sedang berkembang sekarang, jadi tak begitu aneh kalau dituduh sebagai mendompleng ketenaran Mbah Surip.</p>
<p>Ihwal uring-uringan teman-teman pada media yang dianggap membesarkan Mbah, sebenarnya tidak tepat benar. Media, bagaimanapun harus dekat dengan khalayaknya. Saat ini, khalayak jauh lebih kenal Mbah Surip ketimbang Rendra.</p>
<p>Tidak atau jangan diadu soal karya dan sumbangsih yang sustainable. Apakah masyarakat peduli dengan karya sustainable, belum tentu. Rendra memang tak berhenti berkarya. Namun dia sudah lama ada, dan ada di hati generasi yang lebih matang, tua, dan kalau tak boleh disebut adalah masa lalu. Generasi sekarang sudah terlanjur kenal Mbah Surip. Jadi kalau soal media, kita mesti bicara hal yang kini, bukan totalitas karya yang besar atau monumental dalam waktu lama. Suka tidak suka, justru karena baru muncul langsung top, Mbah Surip melambung. Juga lantaran tak banyak fakta yang diketahui tentang Mbah inilah media mesti mengungkapkannya lebih dalam, siapa dia, anaknya, asalnya, istrinya, kehidupannya, rambutnya, dan lain-lain.</p>
<p>Mbah Surip cuma lewat, tapi Rendra jauh lebih banyak monumental karya yang bisa ditilik, dipelajari, dibaca, dipraktekka. Apapun, Rendra lebih berarti. Tak cukup diukur oleh belasungkawa penguasa negeri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.saptoanggoro.com/?feed=rss2&amp;p=247</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kurikulum Model Bisnis</title>
		<link>http://www.saptoanggoro.com/?p=244</link>
		<comments>http://www.saptoanggoro.com/?p=244#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 04:14:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jendela]]></category>

		<category><![CDATA[binus]]></category>

		<category><![CDATA[bisnis]]></category>

		<category><![CDATA[fgd]]></category>

		<category><![CDATA[kampanye]]></category>

		<category><![CDATA[marketing]]></category>

		<category><![CDATA[model]]></category>

		<category><![CDATA[universitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.saptoanggoro.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Dua pekan lalu saya diundang oleh Universitas Bina Nusantara untuk kelas internasional. Di sana kami â€“ saya sebut begitu karena banyak sekali narasumber yang diundang â€“ untuk terlibat dalam focus discussion group (FDG).
Tujuan utama FDG adalah tak lain agar bagaimana lulusan universitas tersebut siap menghadapi masa depan lebih baik, siap menghadapi persaingan di depan, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua pekan lalu saya diundang oleh Universitas Bina Nusantara untuk kelas internasional. Di sana kami â€“ saya sebut begitu karena banyak sekali narasumber yang diundang â€“ untuk terlibat dalam focus discussion group (FDG).<span id="more-244"></span><br />
Tujuan utama FDG adalah tak lain agar bagaimana lulusan universitas tersebut siap menghadapi masa depan lebih baik, siap menghadapi persaingan di depan, dan tak kalah pentingnya lulusannya bisa sesuai dengan industri yang sedang bergerak ke depan.<br />
Diskusi menarik sekali. Beberapa narasumber, dalam kelompok kecil yang terdiri 6 orang per grup, dibagi dalam banyak sector. Kebetulan dari sisi kreatif. Teman-teman semua memberikan kritikan yang tajam bahwa banyak universitas yang menghasilkan strata-1 ternyata kalah dengan anak-anak SMK. Saat ini banyak pengusaha lebih melirik anak-anak SMK yang kerjanya cepat dan tidak banyak tuntutan.<br />
Sebagai pihak tuan rumah yang berusaha akomodatif, kesannya sang dosen jadi sangat-sangat menerima semua masukan dari narasumber yang tiba-tiba jadi orang paling jagoan kumpul bersama. Padahal, dalam praktek nyata, kesulitan di dalam usaha juga bukan hal yang mudah diselesaikan dan selalu muncul dengan bentuk-bentuk yang lain. Meski sebenarnya sikap open mind-nya bisa mengoleksi banyak masukan yang siap diolah.<br />
Melihat situasi yang kurang kondusif, saya sampaikan pada moderator yang juga dosen tetap di situ, agar tidak mudah menerima informasi dari narasumber. Kebetulan semua narasumber pengusaha, sehingga pikirannya irit, selalu berusaha mengendalikan operasional dengan biaya yang murah. Termasuk biaya gaji meski tidak selalu benar karena tetap diperhitungkan dengan nilai kontribusinya.<br />
Nah, yang menarik adalah ketika ditanyakan apakah ada kurikulum mengenai bisnis model, ternyata terus terang tidak ada. Di era dunia IT yang semakin berkembang seperti saat ini, model bisnis bisa lahir sejuta macam.<br />
Ada model bisnis dengan nama umum revenue share, net share after cost, cost ownership program,  cross media cost, marketing cost share, dan beribu nama model bisnis terhampar luas saat ini. Tinggal comot, tinggal diperhitungkan keuntungan kerugian dan kemauan kita. Tinggal memperhitungkan kekuatan perusahaan kita, kekuatan perusahaan partner, pendeknya berangkat dari kelebihan dan kekurangan partner.<br />
Saat ini partner tidak hanya satu, tapi bisa berdua, bertiga, bahkan multiple partner, yang mana tidak ada atasan dan bawahan, intinya adalah potensi masing-masing dioptimalkan, supaya menghasilkan apa yang diharapkan dengan tujuan akhir keuntungan/kemakmuran bersama.<br />
Tatkala kami ber contoh bahwa media IT dengan bisnis utama konten dengan pengakses yang tinggi, ternyata dalam menjalankan bisnis modelnya adalah dengan barter, dimana itu adalah model bisnis yang sangat tradisional ternyata masih berjalan. Namun jangan salah, ada perusahaan yang tidak memiliki brand besar, hanya memiliki kompetensi sebagai pembuat animasi, ternyata setelah numpang di jaringan distributor jadi sangat besar. Seperti yang terjadi dengan Pixar Studio, dimana setelah sukses didistribusikan oleh Walt Disney, beberapa tahun kemudian minta bagi hasil dan akhirnya Pixar mendapatkan saham kepemilikan Disney. Sang macan yang dipelihara tiba-tiba mengatur induknya.<br />
Namanya juga FDG, waktu semakin larut. Suasana sudah ingar bingar, memanas, tapi diskusi harus selesai. Masih beribu pertanyaan mengambang. Model bisnis, satu hal yang tidak nyata, ada di otak dan bahkan hasil kreativitas tidak kentara, tapi merupakan software penting yang bisa menentukan masa depan usaha. Di era industri kreatif saat ini, yang sedang digemborkan oleh pemerintah, akan lebih bagus kalau dalam kreativitas model bisnis juga berkembang.<br />
Yang bagaimana? Kembangkanlah sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.saptoanggoro.com/?feed=rss2&amp;p=244</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Science of Correlatives</title>
		<link>http://www.saptoanggoro.com/?p=233</link>
		<comments>http://www.saptoanggoro.com/?p=233#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2009 02:09:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Provoke]]></category>

		<category><![CDATA[Air]]></category>

		<category><![CDATA[Batu]]></category>

		<category><![CDATA[Jepang]]></category>

		<category><![CDATA[Jombang]]></category>

		<category><![CDATA[Pocari]]></category>

		<category><![CDATA[Ponari]]></category>

		<category><![CDATA[Science]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.saptoanggoro.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Karikatur di halaman Opini Kompas edisi 21 Februri 09 cukup menggelitik. Digambarkan seorang bocah belajar bahasa Indonesia, mengenai kata PEMILIH berasal dari kata PILIH mendapat awalan PE, sehingga arti PEMILIH= orang yang milih.
Kemudian di bawahnya mengenai kata PEMILU, disitu disebutkan berasal dari kata PILU, mendaapat awalan PE sehingga arti PEMILU = orang yang â€¦..(pilu).
Saya senyum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karikatur di halaman Opini Kompas edisi 21 Februri 09 cukup menggelitik. Digambarkan seorang bocah belajar bahasa Indonesia, mengenai kata PEMILIH berasal dari kata PILIH mendapat awalan PE, sehingga arti PEMILIH= orang yang milih.<span id="more-233"></span></p>
<p>Kemudian di bawahnya mengenai kata PEMILU, disitu disebutkan berasal dari kata PILU, mendaapat awalan PE sehingga arti PEMILU = orang yang â€¦..(pilu).</p>
<p>Saya senyum kecut sedikit mengumpat sialan. Usil juga Om Pasikom. Orang bisa saja tidak sadar bahwa yang disampaikan OmPasikom adalah benar. Padahal, semua juga tahu, Pemilu tidak ada kata dasarnya (kata asal), sebab itu merupakan singkatan dari pemulihan umum. Dengan yang disampaikan itu seolah bahwa pemilu membuat pilu.</p>
<p>Sah-sah saja orang mengutarakan opini dengan berbagai macam model. Pemusik lewat lagu, sutradara lewat film, wartawan lewat artikel atau mencari sumber berita yang sesuai dengan idenya, dan kartunis atau karikaturis lewat goresan/gambarnya.</p>
<p>***</p>
<p>Ketika di Jombang ada seorang bocah SD berumur 8 tahun bernama Ponari dengan batu ajiannya dianggap mampu menyembuhkan segala penyakit, belasan ribu orang setiap hari memenuhi Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Megaluh, Jombang, Jawa Timur.</p>
<p>Nama Ponari sangat top. Nama kota Jombang juga kembali ngetop. Lantas, orang mulai memainkan kelirumologi dan memplesetkan nama Ponari dengan Pocari. Karena yang menjadi kedahsyatan dari Ponari itu konon apabila air sudah dicelupi batu yang dipegang langsung Ponari, maka orang pun heboh.</p>
<p>Karena kehebohan itulah, maka orang berdesakan berebut air sentuhan batu+tangan Ponari. Dahsyatnya rebutan hingga menimpa korban, sedikitnya 4 orang meninggal akibat berdesakan, mengenaskan.</p>
<p>Nah, ada yang iseng untuk menghindari korban yang lebih luas, yakni AIR PONARI sudah diproduksi massal, jadilah PONARI SWEAT (keringat Ponari), plesetan dari Pocari Sweat.</p>
<p>***</p>
<p>Salah satu ornamen atau benda yang saya sukai adalah JENDELA. Karena menurut saya jendela memiliki filosofi yang menarik. Meski tidak haru besar sebesar pintu utama, tapi jendela memiliki fungsi sirkulasi yang kuat. Tidak besar tapi penting dan menyehatkan.</p>
<p>Bayangkan bila rumah tanpa jendela, pasti akan bikin pengap dan memboroskan, paling tidak harus pasang air condition atau ex-house. Kebetulan dalam bahasa Inggris, jendela itu artinya window.</p>
<p>Entah kebetulan atau tidak bahwa Bill Gates mengambil kata windows yang merupakan produk utamanya itu filosofinya seperti saya atau tidak, saya tidak tahu.</p>
<p>Nah nampaknya bahasa Inggris dan Indonesia dalam hal ini memiliki keselarasan turunan. Kalau kata WINDOW dihilangkan huruf (n) maka yang terbaca adalah WIDOW.</p>
<p>Nah, karena WINDOW itu artinya JENDELA, maka kalau WIDOW artinya dalam bahasa Indonesia sama, yakni JANDA-lah.â€¦maksa banget ya?</p>
<p>***</p>
<p>OK, mumpung lagi di cafÃ© nungguin temen yang belum datang, iseng saja. Biar kelihatan kerja dimata orang lain, serius nih. Ada satu hal lagi, bahwa kepribadian bangsa bisa dilihat dari bahasanya.</p>
<p>Kalau orang Jawa, seperti halnya dengan huruf dan caranya menulis dalam alphabet ha-na-ca-ra-ka, maka kalau sebuah huruf  itu sudah mendapat pangkon (dipangku), maka akan mati. Misalnya kata ma-ha-la, nah di akhir la mendapatkan pangkon (dipangku) maka akan terbaca â€œmahalâ€, huruf â€œaâ€-nya hilang.</p>
<p>Orang Jepang, kalau menulis tata aturannya adalah dari atas ke bawah trickle down effect). Tak heran bila orang Jepang sangat-sangat menghormati seniornya. Tidak grusa-grusu yang muda seenaknya saja menghajar yang lebih tua. Kalaupun mau naik, paling tidak mereka harus minta izin kepada yang tua.</p>
<p>Nah, suatu hari saya kedatangan tamu dari Inggris dan Amerika yang datang ke kantor. Mereka menawarkan program kerjasama musik. Saya bilang tak menarik karena saat ini konsentrasi dengan bisnis RBT (ring back tone) dengan operator.</p>
<p>Kedua orang itu mencibir, Indonesia aneh, Korea, Jepang, Thailand dan Filipina juga unik, katanya. Mengapa kok rela-relanya berlangganan lagu yang tidak didengarkan sendiri tapi untuk lawan bicara (orang yang menelepon).</p>
<p>Lantas saya bilag, bahwa orang Asia memang peduli dengan orang lain, menghormati tamu, menyenangkan kawan, tidak egois dan sombong seperti orang Amerika dan Inggris. Kedua orang itu terperangah. Saya jelaskan, bukti nyata bahwa orang Inggris dan AS sombong, arogan, tidak mau mengalah itu jelas. Bagaimana tata bahasa Anda menuliskan kata saya = I di dalam kalimat? Bolehkah saya menulisnya memakai huruf kecil? â€œTidak bisa,â€ sergah mereka. Itulah kesombongan. Why you canâ€™t writing I with little letter for â€œsayaâ€? Just for your information, we should write â€œAndaâ€ with capital letter for â€œAâ€ and thatâ€™s mean â€œyouâ€.</p>
<p>Kedua tamu itu tersentak diam seribu bahasa sebelum akhirnya saya tawarkan air mineral dan tertawa bersama untuk menghindari ketegangan. Ini mungkin kata orang sekolahan disebut sebagai sosio linguistic yang korelatif dengan psiko sosial.</p>
<p>Tapi maaf saudara-saudara, kalau sampai Anda membacanya teralu serius, sekali lagi mohon maaf. Sebab, sebenarnya poin-poin di atas hanyalah â€œscience of correlativesâ€. Maksudnya? Itu ilmu orang Jawa yang disebut â€œilmu gathukâ€ diotak-atik mathuk (cocok). Pokoknya dipas-pasin gitu lo.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.saptoanggoro.com/?feed=rss2&amp;p=233</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mantra Justru</title>
		<link>http://www.saptoanggoro.com/?p=227</link>
		<comments>http://www.saptoanggoro.com/?p=227#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 13:06:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Provoke]]></category>

		<category><![CDATA[Justru]]></category>

		<category><![CDATA[Mega]]></category>

		<category><![CDATA[Obama]]></category>

		<category><![CDATA[Ponari]]></category>

		<category><![CDATA[SBY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.saptoanggoro.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[ 
Dalam perjalanan naik kereta Jakarta-Surabaya, kebetulan duduk bersebalahan dengan anak muda yang dari tongkrongannya berkecukupan, rapi, sopan, tidak terlalu banyak bicara, dan pengetahuannya tidak buruk-buruk amat. Lalu apa hubungannya dengan justru?
Kami memulai pembicaraan seperti biasa, basa-basi, tujuan kemana, dari mana, tinggal dimana, sekolah dimana dan lain-lain. Akhirnya dia membuka bahwa sudah setahun sejak selesai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:TrackMoves /> <w:TrackFormatting /> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:DoNotPromoteQF /> <w:LidThemeOther>EN-US</w:LidThemeOther> <w:LidThemeAsian>X-NONE</w:LidThemeAsian> <w:LidThemeComplexScript>X-NONE</w:LidThemeComplexScript> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> <w:SplitPgBreakAndParaMark /> <w:DontVertAlignCellWithSp /> <w:DontBreakConstrainedForcedTables /> <w:DontVertAlignInTxbx /> <w:Word11KerningPairs /> <w:CachedColBalance /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> <m:mathPr> <m:mathFont m:val="Cambria Math" /> <m:brkBin m:val="before" /> <m:brkBinSub m:val=" " /> <m:smallFrac m:val="off" /> <m:dispDef /> <m:lMargin m:val="0" /> <m:rMargin m:val="0" /> <m:defJc m:val="centerGroup" /> <m:wrapIndent m:val="1440" /> <m:intLim m:val="subSup" /> <m:naryLim m:val="undOvr" /> </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} --></p>
<p>Dalam perjalanan naik kereta Jakarta-Surabaya, kebetulan duduk bersebalahan dengan anak muda yang dari tongkrongannya berkecukupan, rapi, sopan, tidak terlalu banyak bicara, dan pengetahuannya tidak buruk-buruk amat. Lalu apa hubungannya dengan justru?<span id="more-227"></span></p>
<p class="MsoNormal">Kami memulai pembicaraan seperti biasa, basa-basi, tujuan kemana, dari mana, tinggal dimana, sekolah dimana dan lain-lain. Akhirnya dia membuka bahwa sudah setahun sejak selesai sekolah belum bekerja. Alasannya macam-macam: tidak banyak relasi, orang tuanya baru memasuki pensiun, adiknya masih harus sekolah, dia sendiri lulusan kuliahnya swasta, dengan nilai yang standar IPK di bawah 3, dan lain-lain.</p>
<p class="MsoNormal">Sejenak saya tercenung. Apakah karena segala kekurangannya itu kemudian dia susah cari kerja, atau memang dia malas. Dia mengaku mau bekerja apa saja, asal halal (jawaban umum). Namun dia menginginkan kerja kantor, administrasi, tidak mau jadi sales yang maksa-maksain orang membeli produk.</p>
<p class="MsoNormal">Pada saat yang lain, saya mendapat kiriman email tentang seorang perempuan yang sejak lahir tak memiliki tangan tapi bisa menerbangkan pesawat, mengendarai mobil, dan bisa menari balet dengan sangat sempurna, menjadi taekwondoin, dan lain-lain. Semua dilakukan dengan kaki.</p>
<p class="MsoNormal">Yang menarik dari email ini adalah, sejak kecil dia, yang bernama Jessica Cox selalu bilang tidak ada yang tidak bisa.</p>
<p class="MsoNormal">Jika dipertentangkan, antara teman yang ketemu di kereta dengan Cox, pasti akan berpikir mengapa yang lengkap tak bisa ngapa-ngapain tapi justru yang buntung bisa ngapa-ngapin dan penuh prestasi. Semua pengalaman Jessica menjadi inspiring bagi seluruh negeri AS. Dia menjadi kebangaan warga Tucson, Arizona, AS.</p>
<p class="MsoNormal">Kita tentu tidak boleh menyerah. Kita tentu harus menyuskuri nikmat yang ditakdirkan dan yang kita miliki. Diantara yang kurang, pasti ada sisi kelebihan. Kekurangan tak berarti menyerah. Untuk itu, bagi yang merasa kurang, buang jauh-jauh. Yakinlah bahwa Anda memiliki kemampuan. Anda harus berani melontarkan kata Justru.</p>
<p class="MsoNormal">Mantra justru ini akhirnya saya cekok-kan ke anak tersebut. Justru karena orang tua Anda pensiun maka Anda harus bisa menunjukkan prestasi dan memberikan penghasilan. Justru bahwa adik Anda perlu sekolah lebih baik itulah Anda harus berusaha bekerja, apapun sesuai kata hati, untuk bisa membantu adik-adik.</p>
<p class="MsoNormal">â€œTapi saya tidak punya relasi,â€ sergahnya. â€œJustru Anda tidak punya relasi itulah Anda harus mencari sebanyak-banyaknya, agar punya relasi,â€ jawab saya memberi semangat.</p>
<p class="MsoNormal">Entah apa yang menginspirasi saya, tiba-tiba kata Justru menjadi mujarab untuk dicekokkan kepada anak muda ini. Kata-kata â€œtapiâ€ selalu saya benturkan dengan mantra â€œjustruâ€.</p>
<p class="MsoNormal">Justru dengan sekolah dari swasta seharusnya memberikan isnpirasi Anda untuk menunjukkan bahwa Anda tidak kalah dengan yang lolos sipenmaru, kata saya. Kalimat â€œtapiâ€ dia yang mengatakan penginnya kerja kantor saya tabrak dengan â€œjustruâ€ karena cuma mikirin kantor administrasi itulah yang membelenggu diri, karena pekerjaan dan pendapatan itu tak hanya di dalam ruang.</p>
<p class="MsoNormal">Saya memberikan banyak contoh orang sukses yang berangkat dari kampong dan dari keluarga sederhana bahkan miskin. Justru dengan kekurangan, kemiskinan, dari kampung itulah yang menyemangatinya bahwa sebagai orang kampung harus bisa menunjukkan bahwa mereka bisa eksis di Jakarta, bisa survive.</p>
<p class="MsoNormal">Nah, ketika sang anak itu menanyakan kepada saya apakah punya pekerjaan, dengan ringan kujawab: Justru saya tidak punya pekerjaan tetap itulah maka saya tidak kasih kamu. Dan pemuda itupun akhirnya diam.</p>
<p class="MsoNormal">Beberapa hari kemudian dia sms saya. Isinya menyampaikan bahwa dia sudah bekerja. Saya bahagia karena dia akhirnya berhasil. Namun, apa yang terjadi? Setelah saya kasih ucapan selamat, dia bilang: Justru karena terlalu yakin itulah Pak, saya mau pindah cari yang lain yang lebih enak.</p>
<p class="MsoNormal">Apakah Anda percaya? Saya harap tidak. Justru kalau Anda mudah percaya itu menunjukkan Anda tidak memiliki daya kritis. Jadi?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.saptoanggoro.com/?feed=rss2&amp;p=227</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>â€˜Jombangâ€™ Dahsyat</title>
		<link>http://www.saptoanggoro.com/?p=239</link>
		<comments>http://www.saptoanggoro.com/?p=239#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jan 2009 06:29:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jendela]]></category>

		<category><![CDATA[Ba'asyir]]></category>

		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>

		<category><![CDATA[Emha]]></category>

		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>

		<category><![CDATA[Hasyim Asy'ari]]></category>

		<category><![CDATA[Ponari]]></category>

		<category><![CDATA[Ryan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.saptoanggoro.com/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[  
Bukan ucapan saya itu, tapi komentar teman yang merasa heran dengan kota kecil di Jawa Timur itu. Kota ini memiliki nama-nama besar, sepanjang sejarah, dari berbagai jenis bidang. Ponari adalah salah satu fenomena. Apa benang merah Jombang?
Melahirkan orang-orang top, barangkali itu yang menjadikan julukan bagi Kota Jombang. Dari kota ini telah lahir nama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span> <mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --> <!--[endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --> <!--[endif]--></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Bukan ucapan saya itu, tapi komentar teman yang merasa heran dengan </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">kota</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> kecil di Jawa Timur itu. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Kota</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> ini memiliki nama-nama besar, sepanjang sejarah, dari berbagai jenis bidang. Ponari adalah salah satu fenomena. Apa benang merah Jombang?</span><span id="more-239"></span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"><strong>Melahirkan orang-orang top</strong>, barangkali itu yang menjadikan julukan bagi Kota Jombang. Dari </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">kota</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> ini telah lahir nama besar, dengan kontribusi tingkat nasional di berbagai bidang. Bidang agama ada KH Hasyim Asyâ€™ari, pemikiran teknokrasi politik ada Nurcholish Madjid, budayawan lahir nama Emha Ainun Nadjib, sumbangan sebagai preside nada Abdurrahman Wahid (Gus Dur), di bidang penegakan akidah yang selalu dituding teroris ada Ustad Abubakar Baâ€™asyir. Kemudian ada seniman Asmuni, juga fenomenon tukang jagal Very Idham Henyansah (Ryan), dan sekarang dukun cilik Ponari. Masihkah Jombang melahirkan orang-orang dahsyat?</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Kita mulai dari <strong>KH Hasyim Asyâ€™ari. </strong>Dialah yang mendirikan pilar ajaran Islam yang lebih membumi dan merakyat dengan pendiriannya Nahdhlatul Ulama (NU). Lahir di </span>Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 dan meninggal 1947, KH Hasyim Asyâ€™ari yang kemudian disebut sebagai Hadratus Syeikh ajaran-ajarannya tak lekang dan lapuk oleh debu dan rayap. Sampai kini, ajaran NU bahkan diyakini paling luas dan besar pengikutnya di Indonesia.</p>
<p>Ajaran dan nilai itu dilanjutkan oleh anaknya, KH Wahid Hasyim yang juga memberi kekuatan NU makin moncer dan hingga Wahid Hasyim merupakan menteri agama di era Soekarno. Dialah kalau boleh disebut sebagai bapak dari IAIN (sekarang Universitas Islam Negeri / UIN).</p>
<p>Kemudian di babak berikutnya, lahir tokoh muda berbakat yang santun tapi komentar-komentarnya kuat. Dialah <strong>Nurcholish Madjid</strong>, mantan ketua HMI (Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia tahun 1969 s/d 1971. Cak Nur â€“ begitu biasa dipanggil, adalah asli Mojoanyar, Jombang.</p>
<p>Dibesarkan dari keluarga pesantren, pemikiran Cak Nur dikesankan nyeleneh karena cenderung lebih dekat ke Muhammadiyah. Dia lebih memilih organisasi mahasiswa HMI yang cenderung berafiliasi ke Muhammadiyah ketimbang PMII yang lebih bernafas NU. Pemikiran-pemikiran egaliter dan moderat Cak Nur sehingga dia menjadi perhatian luas, bahkan disebut sebagai bapak bangsa dan salah satu technokrasi politik Indonesia. Perannya sebagai â€œpendesakâ€ Soeharto untuk turun dari kursi presiden RI cukup besar ketika dia menolak menjadi ketua komite reformasi bentukan Soeharto.</p>
<p>Ada lagi yang pake Cak, yakni<strong> Cak Nun</strong>. Meski tidak sebesar Cak Nur namanya, namun Cak Nun yang bernama lengkap Mohammad (eMHa) Ainun Nadjib memberikan sumbangan yang banyak dalam dunia kebudayaan. Dia arek Jombang asli yang dilahirkan pada 27 Mei 1953, anak ke-4 dari 15 bersaudara, dari Desa Menturo, Sumobito, Jombang.</p>
<p>Cak Nun selain sebagai budayawan juga aktif menulis kolom, mengelola kelompok seni Kyai Kanjeng, pemimpin pengajian Padhang Mbulan, dan beristrikan artis cantik Novia Kolopaking. Emha telah menurunkan bakat budayanya pada sang anak Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe yang jadi motor dan penyanyi grup band Letto.</p>
<p>Di Srimulat ada pelawak top, salah satunya adalah<strong> Asmuni </strong>(Totok Asmuni). Paling sering dia menyampaikan bahwa dirinya asli dari Diwek, Jombang. Ini memang daerah di selatan kota Jombang yang sebenarnya masih â€œmembawahkanâ€ desa Tebuireng. Kesannya Diwek itu kampong banget dengan cara Asmuni bicara, tapi intinya dia ingin mengangkat pamor Diwek itu lebih dari Tebuireng. Sebenarnya Asmuni dilahirkan di Surabaya Jawa Timur, 17 Juni 1932. Namun sejak kecil sekolah dan hidup di Jombang, maka lelaki yang top dengan kata-kata â€œHil yang Mustahalâ€ itu pun diakui sebagai bagian dari orang dahsyat Jombang.</p>
<p>Kontribusi Jombang buat <span> </span>negeri ini adalah, kota ini pernah melahirkan seorang Presiden, yakni <strong>Abdurrahman Wahid (Gus Dur)</strong> yang menjabat pada 1999-2002. Gus Dur yang lahir di Denanyar, 4 Agustus 1940. Selain memimpin negeri yang cukup singkat, karena diturunkan oleh anggota dewan, Gus Dur juga pernah memimpin NU cukup lama, hampir 20 tahun. Gus Dur juga adalah dewan pendiri sekaligus ketua dewan syura Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang sekarang dipimpin Muhaimin Iskandar.</p>
<p>Mungkin sudah banyak cerita lain tentang kisah orang Jombang bernama <strong>Ryan</strong> si tukang jagal 11 orang, sehingga tidak perlau disampaikan di sini. Begitu juga untuk Ustadz <strong>Abubakar Baâ€™asir</strong> yang asli Mojoagung, Jombang, sudah banyak ceritanya.</p>
<p>Tampaknya <strong>Ponari </strong>yang sekarang tak kalah fenomenal dan monumental. Konon, gara-gara dia main hujan-hujanan dan kemudian ada hujan geledek tiba-tiba sambaran petirnya melemparkan batu di kepalanya, maka batu aneh itu diyakini bisa menyembuhkan penyakit.</p>
<p>Cerita yang sebenarnya baru disampaikan pada Januari lalu, dalam waktu singkat membuat bocah kelahiran 6 Juli 1999 anak dari pasangan Mukaromah-Kamsen itu kemudian menghentakkan nasional. Tempat tinggalnya di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang jadi meriah. Puluhan ribu manusia yang datang dari seluruh Indonesia membuatnya menjadi fenomena.</p>
<p><strong>Wajah Jombang</strong></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Tahukah Anda apa itu Jombang. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Kota</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> ini diyakini bentukan dari dua kata Ijo (hijau) dan Abang (merah). Mengapa demikian, karena sebenarnya Jombang itu masyarakatnya. Monografi Kabupaten Jombang, ijo bermakna kesuburan serta sikap bakti kepada Tuhan Yang Mahaesa, sementara abang dimaknai sebagai sifat berani, dinamis, atau sikap kritis dan abangan yang nasionalis dan kejawen.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Untuk daerah pinggiran, masyarakat Jombang cenderung agamis dan agraris. Sedangkan masyarakat perkotaan cenderung kritis, dinamis, dan abangan. Bahasa yang berkembang bila dari pedalaman cenderung santun dan terutama wilayah barat seperti kecamatan Perak, Kec. Gudo, Kec. Ploso, masih memiliki pengaruh Mataraman dalam </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">gaya</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> bahasanya karena dekat dengan Nganjuk. Sedikitnya ada 50 pondok pesantren hidup di Jombang besar-kecil ataupun pondok putri/putra.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Namun untuk daerah perkotaan ke timur, seperti kecamatan Jombang, Peterongan, Mojoagung, sudah mirip dengan </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">gaya</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> Suroboyoan. Sudah mulai kesulitan menemukan remaja bisa berbahasa Jawa kromo inggil tapi cenderung ngoko (kasar) yang mengesankan egaliter. Abang ini juga mencerminkan seuatu yang kurang bagus, karena benar-benar bertolak belakang dengan yang hijau dimana yang merah ini kulturnya keras, dekat dengan kehidupan suka judi, minum, bahkan pelacuran.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Di bagian yang hijau telah melahirkan pemaknaan yang besar di bidang agama dengan banyaknya pesantren, di sisi lain sebenarnya kelompok merah (abang) juga melahirkan besutan. Apa itu besutan? Ini adalah cikal bakal lahirnya ludruk yang merupakan kesenian khas </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Surabaya</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Dalam besutan, semua pemainnya dilakukan oleh laki-laki tapi bisa berperan perempuan dengan mengubah dandanan. Bahasa dalam besutan ceplas-cplos saling lempar, saling ledek, dan konon juga dipakai sebagai bagian alat perjuangan pada masa Belanda. Tidak mengherankan bila banyak orang Jombang masuk menjadi seniman, termasuk seniman seperti Srimulat ataupun Ludruk yang sudah mulai tergerus.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Untuk bidang keilmuan, untuk level masyarakat kelas menengah ke bawah, muncul istilah Kiroto (dikiro-kiro tapi nyoto) atau ilmu gathuk alias ngepas-ngepaskan. Kadang memaksakan logika. Ilmu Kiroto itu adalah memaknai sesuatu dengan cara mengira-kira, dan bila cocok, dengan entengnya dianggap sebagai kebenaran.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Jombang sebenarnya tidak menjadi apa-apa ketika Majapahit (berpusat di Trowulan Mojokerto) masih berkuasa. Namun ketika Majapahit runtuh, Jombang menjadi memiliki kekuatan dan potensi sendiri. Dari Barat Jombang menjadi penahan akhir budaya Mataraman.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Meski tampaknya hitam-putih atau ijo-abang yang seolah dikotomis, bagaimanapun terjadi sosialisasi dan asimilasi dalam masyarakatnya dan menjadikan masyarakatnya menjadi bersifat moderat, egaliter, pragmatis, dan terbuka pada hal-hal baru.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Selain pondok pesantren, sebenarnya Jombang tidak berarti sepenuhnya hijau atau merah. Justru sikap egaliternya itulah orang Jombang menghargai agama lain. Hampir tidak pernah terdengar kerusuhan SARA di sini. Saat kerusuhan SARA anticina pada awal 1980-an, Jombang ternyata adem ayem. Pertikaian antarumat beragama juga sebenarnya tidak terengar karena egalitariannya itu. Bahkan gerakan ordo kelompok jemaat Kristiani Jawi Wetan muaranya berpusat di Jombang. Tepatnya di wilayah Kecamatan Mojowarno, sekitar 5 kilometer dari Tebu Ireng, Jombang. Sedangkan di kawasan Tejoagung Ngepeh, Ngoro, penganut Hindu masih hidup dan leluasa melaksanakan peribadatan.</span></p>
<p>&#8220;Masyarakat sudah lama hidup bersama. Mereka bahkan mendirikan tiga rumah ibadat masing-masing secara berdampingan. Selama ini belum pernah terjadi konflik berlatar agama di Jombang,&#8221; kata Bupati Jombang Suyanto.</p>
<p>Secara keseluruhan masyarakat Jombang agraris dan cita-cita yang banyak mempengaruhi pemuda setempat adalah menjadi amtenaar (pegawai) atau tentara (TNI) dan polisi. Semangat dan mentalnya menjadi yang terbaik menjadikan banyak yang mengejar pendidikan tinggi dan ingin menjadi pejabat seperti bekas Gubernur Jatim Imam Oetomo, bekas KSAU Rilo Pambudi dan lain-lain. Yang agak susah justru mencari entrepreneur asli Jombang yang berkelas nasional/internasional.</p>
<p>Yang unik, meski gampang akrab dalam pergaulan, proximity kedaerahan sebagai rasa sesama Jombang ketika berada di perantauan, tidak terlalu menonjol. Tidak seperti persatuan orang Lamongan (Pualam) yang kokoh, atau kekerabatan Kertosono di Jakarta, dan lain-lain. Orang Jombang lebih cair.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.saptoanggoro.com/?feed=rss2&amp;p=239</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Perempatan oooh pertigaanâ€¦</title>
		<link>http://www.saptoanggoro.com/?p=225</link>
		<comments>http://www.saptoanggoro.com/?p=225#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 06:06:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Senggang]]></category>

		<category><![CDATA[Mega]]></category>

		<category><![CDATA[Obama]]></category>

		<category><![CDATA[Ponari]]></category>

		<category><![CDATA[SBY]]></category>

		<category><![CDATA[Yoyo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.saptoanggoro.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[Hati-hati seminggu setelah pemilu legislatif (Pileg), jangan keluar rumah. Sebab, diperkirakan hampir seluruh perempatan dan pertigaan akan terjadi kemacetan. Faktor utama penyebab kemacetan adalah para anggota legislative yang baru dilantik atau dinyatakan lolos ke gedung parlemen melakukan syukuran di setiap perempatan!
Syukuran itu sah-sah saja. Karena mungkin mereka merasakan, salah satu dari kesuksesan mereka adalah perempatan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hati-hati seminggu setelah pemilu legislatif (Pileg), jangan keluar rumah. Sebab, diperkirakan hampir seluruh perempatan dan pertigaan akan terjadi kemacetan. Faktor utama penyebab kemacetan adalah para anggota legislative yang baru dilantik atau dinyatakan lolos ke gedung parlemen melakukan syukuran di setiap perempatan!<span id="more-225"></span></p>
<p>Syukuran itu sah-sah saja. Karena mungkin mereka merasakan, salah satu dari kesuksesan mereka adalah perempatan. Kenapa syukuran? Ya karena perempatan telah membawa mereka ke parlemen. Ya karena di perempatan bisa tidak bayar pajak, dan lain-lain.</p>
<p>Benarkah terjadi demikian? Saya tidak bisa menjamin. Tulisan ini hanya antisipasi saja, siapa tahu bahwa di kemudian hari setelah ditetapkan sebagai anggota dewan, mereka syukuran, kan paling tidak kita bisa antisipasi. Kalaupun tidak keluar rumah pada saat hari syukuran tiba, ya kita bisa menghindari perempatan. Memang bisa? Ya ndak tahu.</p>
<p>Sodara-sodara. Perempatan atau pertigaan selama ini sering dalam diskusi informal dengan rekan-rekan dari Sumatera Barat dianggap penting. Opportunity dilihat lebih dari satu penjuru sangat jelas. Makanya ada pepatah ringan, bahwa di setiap perempatan atau pertigaan ada warung masakan Padang.</p>
<p>Maaf kalau becandanya kelewatan. Dalam sebuah kesempatan ada pertanyaan plesetan khas Yogya, apa benar vertigo itu inceran orang Padang? â€œKok bisa? Soalnya setiap vertigo-an ada rumah makan Padang..heheheheâ€ (Maaf, tidak bermaksud menyinggung).</p>
<p>OK, ide cerita ini adalah all about perempatan/pertigaan. Dalam kebanyakan peristiwa yang terjadi, wilayah ini sering menjadi wilayah krusial. Setiap orang selalu membutuhkan dan atau tidak pernah bisa menghindari perempatan.</p>
<p>Karena fakta itulah maka seluruh orang/pihak merasa berkepentingan terhadap square area (perempatan) itu. Wilayah paling menarik bagi pengamen, adalah perempatan. Begitu juga pengemis, ini merupakan wilayah favorit. Apalagi yang ada lampu merah-kuning-ijonya (traffic light).</p>
<p>Namun, ternyata dari dulu hingga kini perempatan belum ter-revitalisasi. Belum menjadi tempat yang terpedayakan sehingga bebas dari tempat minta-minta. Bahkan sampai calon anggota dewan yang terhormat â€“ capres sekalian â€“ pola pikirnya tak beda dengan pengamen dan pengemis: minta-minta pada setiap pengendara atau masyarakat agar mau memberikan suaranya pada saat pemilihan tiba. Padahal, mereka ini (capres-caleg) adalah yang berjanji â€“ sekali lagi berjanji â€“ untuk memberdayakan masyarakat secara keseluruhan.</p>
<p>Untung saya belum nyapres dan nyaleg. Siapa saya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.saptoanggoro.com/?feed=rss2&amp;p=225</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
